Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Senator Ning Lia Ajak Mahasiswa UTM Bangun Peradaban untuk Kembangkan Keilmuan Pengetahuan, Penguatan Karakter dan Kemanfaatan bagi Masyarakat

Editor : Andi Makasar | 19.00 wib
Senator Lia Istifhama Anggota DPD RI saat hadiri acara di Kampus Universitas Trunojoyo Bangkalan, Madura (UTM), Rabu (21/10). (Dok/Istimewa).

SURABAYA, NewsPantau.com -- Jawa Timur memiliki potensi besar menjadi gerbang baru Nusantara melalui penguatan tradisi keilmuan, pendidikan, dan nilai-nilai Islam. Potensi tersebut perlu dioptimalkan dengan melibatkan generasi muda agar warisan intelektual Islam tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi kekuatan untuk menjawab tantangan zaman.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berperan aktif membangun peradaban dari Timur. Menurutnya, kemajuan peradaban tidak cukup bertumpu pada kejayaan masa lalu, tetapi harus diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, saat menjadi narasumber Islamic Talkshow bertajuk Membangun Peradaban dari Timur: Kontribusi Nilai-Nilai Islam bagi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, UTM, Rabu (21/10/2026).  

Kegiatan yang dimoderatori Moh Miqdad Ilmi tersebut turut dihadiri Lora Nasih Aschal, anggota DPRD Jawa Timur; Dekan Fakultas Keislaman UTM, Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I.; Wakil Dekan I, Dr. Firman Setiawan, S.H.I., M.E.I.; Wakil Dekan II, Muhammad Ersya Faraby, S.E.I., M.SEI.; Wakil Dekan III, Fajar, S.H.I., M.H.; serta para dosen dan pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa).

Dalam forum tersebut, Ning Lia menegaskan bahwa pembangunan peradaban membutuhkan tradisi keilmuan yang kuat dan mampu menjembatani nilai agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Salah satu konsep yang dibahas ialah benevolent society, yakni masyarakat yang mengedepankan kebaikan bersama dan kemanfaatan sosial. Peradaban yang kuat, menurut gagasan yang dipaparkan, tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia, solidaritas, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Ning Lia juga menjelaskan tiga pendekatan epistemologi Islam, yaitu bayani, irfani, dan burhani. Pendekatan bayani bertumpu pada teks, irfani menekankan pengalaman spiritual, sedangkan burhani mengedepankan penalaran dan pembuktian rasional.

“Ketiganya dapat menjadi pijakan untuk membangun tradisi keilmuan yang memadukan nilai agama, kedalaman spiritual, dan rasionalitas. Pembahasan ini juga berkaitan dengan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi,” katanya.

Ia turut mengulas kejayaan peradaban Islam, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah melalui Baitul Hikmah. Sejarah tersebut menunjukkan pentingnya tradisi belajar, pertukaran pengetahuan, dan keterbukaan terhadap pemikiran dalam mendorong kemajuan peradaban.

Ning Lia juga mengaitkan pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai hubungan sosial dan pembagian kerja dengan gagasan Adam Smith tentang ketergantungan antarmanusia dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Keduanya menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kehidupan masyarakat dibangun melalui hubungan dan kerja sama. Setiap orang memiliki peran yang saling melengkapi sehingga kemajuan membutuhkan solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Selain penguatan ilmu pengetahuan, keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut menyampaikan pentingnya demokrasi substantif dan meritokrasi. Demokrasi, menurut materi yang disampaikan, tidak cukup berhenti pada prosedur politik, tetapi perlu diwujudkan melalui keadilan, kesempatan yang setara, serta penghargaan terhadap kemampuan seseorang.

Ning Lia yang juga putri KH Masykur Hasyim itu menilai lembaga pendidikan, termasuk pesantren, memiliki peran strategis dalam membangun peradaban Islam di Nusantara. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan karakter generasi penerus.

Semangat tersebut sejalan dengan ungkapan syubbanul yaum rijalul ghod, yang bermakna pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Ia juga memaparkan konsep SANTRI sebagai nilai yang relevan bagi generasi muda, yakni Smart, Adaptability, Networking, Toughness, Responsibility, dan Integrity. Konsep tersebut menekankan kecerdasan, kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, ketangguhan, tanggung jawab, dan integritas.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur, Dr. Ramliyanto S., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur, menyoroti panjangnya jejak perkembangan Islam di Jawa Timur, mulai dari pendidikan hingga kehidupan sosial dan budaya.

Ia menyebut keberadaan makam Fatimah Binti Maimun di Gresik, tradisi Wali Songo, serta pesantren sebagai bagian dari warisan sejarah yang dapat menjadi inspirasi dalam membangun peradaban.

Menurut Ramliyanto, khazanah keilmuan para ulama juga perlu terus diinventarisasi dan didigitalisasi agar dapat diakses oleh generasi berikutnya. 

“Dengan demikian, warisan intelektual Islam tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman, apalagi jumlah pesantren di Jatim mencapai 7.347 unit dan ini terbanyak di Indonesia,” katanya.

Rektor UTM, Prof. Dr. Syafi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyinggung ungkapan al-Islamu mahjubun bil-muslimin, yang menggambarkan bahwa citra Islam dapat tertutupi oleh perilaku pemeluknya. Karena itu, nilai-nilai positif dalam ajaran Islam perlu tercermin melalui sikap dan tindakan umat.

Menurutnya, identitas keislaman tidak cukup ditampilkan melalui simbol atau atribut seperti sarung dan kopiah. Hal yang lebih penting ialah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari karakter, pola pikir, dan gaya hidup, termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta kehidupan sosial.

Ketua pelaksana, M. Bagus Junaidi, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga mendorong pertumbuhan intelektual, kreativitas, dan kepedulian sosial. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam membangun peradaban.

Sementara itu, Gubernur BEM Fakultas Keislaman UTM, M. Fathul Amin Firdaus, menyebut Islamic Talkshow tersebut sebagai puncak rangkaian kegiatan kepemimpinan yang diarahkan untuk membangun peradaban. 

"Melalui forum akademik tersebut, pembangunan peradaban dari Timur menjadi ajakan bagi generasi muda untuk menghubungkan kekayaan sejarah dan intelektual Islam dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Jawa Timur memiliki warisan yang dapat menjadi modal penting, tetapi pengembangannya membutuhkan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan kontribusi nyata dari generasi penerus,” katanya. *** @andi/tim