Mengukur Kualitas Pendidikan Anak Ditengah Pandemi
Editor : M.Romy | 01:15 WIB
News-Pantau.com, Lamongan - Mempertanyakan seberapa jauh kualitas pendidikan yang diterima anak sd/mi yang terpaksa bersekolah secara daring selama pandemi menjadi bagian keseharian orang tua saat ini.
Banyak orang tua tak puas dan mengeluh dengan kondisi dan cara belajar daring yang diberikan guru dan sekolah di masa pandemi COVID-19.
Apalagi di wilayah pedesaan yg notabene fasilitas masih di rasa minim. Namun, sebagian yang lain mengaku tak ingin memberikan beban berlebihan kepada anak di saat ini.
Anak-anak sudah cukup depresi dengan keadaan ketika mereka harus terkurung di rumah, dibatasi gerakannya, hingga tak boleh datang ke sekolah secara fisik. Itu sudah cukup mendatangkan rasa frustrasi tersendiri bagi anak.
Mau tidak mau mereka terpaksa belajar di tengah keterbatasan akses secara daring dan hampir dipastikan tak bisa seoptimal mendapatkan materi belajar dibandingkan hari-hari biasa.
Alasan keamanan dan kesehatan menjadi faktor utama yang menyebabkan sebagian besar anak-anak di Indonesia masih harus bertahan belajar daring sampai saat ini. Terlebih banyak daerah di Indonesia yang kini kembali mengalami peningkatan angka pasien yang terjangkit COVID-19.
Oleh karena itu, di tengah pandemi COVID-19 tampaknya bukan waktu yang ideal untuk mempertanyakan kualitas materi pendidikan yang diterima anak dari guru dan sekolahnya. Sebab tidak layak menuntut sesuatu yang ideal di tengah keterbatasan yang jauh dari kata ideal untuk mencapainya.
Mengutip pernyataan Psikolog dan peneliti Mindful parenting Dewi Kumalasari mengatakan orang tua harus belajar menanamkan dalam diri bahwa belajar dari rumah secara daring ini bukan hanya tentang memenuhi tuntutan sekolah atau akademik tetapi kesempatan berharga untuk membentuk kemandirian belajar anak.
Menurut Dewi Kumalasari yang juga Dosen Universitas Yarsi “Bahwa Proses belajar selalu jauh lebih berharga dari hasil belajar,”
Oleh karenanya ia menyarankan orang tua agar tetap menanamkan kebahagiaan dan mengajak anak membuat jadwal rutinitas harian yang konsisten dan fleksibel.
“Yang penting untuk mengatur waktu yang cukup untuk bersenang-senang, berolahraga, dan bersosialisasi. Membentuk kebiasaan belajar mandiri seperti meletakkan jadwal belajar atau rencana pembelajaran di tempat yang terlihat agar mudah diikuti,” katanya. (Romy/rr).











