Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hadapi Kelangkaan Obat, Ning Lia Suarakan Konsumsi Produk Tradisional

Editor : GusWawan | 10:35 WIB

Dok.newspantau/istimewa.
Dr Lia Istifhama, M.E.I ketua DPD perempuan tani HKTI Jatim saat meramu jamu herbal bersama pengurus HKTI Jatim.
---------------------------------------------------

News-Pantau.com, SURABAYA - Bukan hanya polemik vaksinasi massal dan pemberlakuan kebijakan PPMK Darurat di Kota Metropolis Surabaya yang banyak disorot oleh para aktivis, melainkan juga berkaitan dengan ketersediaan obat yang dianggap sebagai ikhtiar terapi Covid-19.

Ning Lia Istifhama misalnya, aktivis yang sebelumnya seringkali menyuarakan pentingnya pembelajaran tatap muka terbatas bagi anak-anak, kini menyuarakan pentingnya tindakan preventif di tengah pandemi.

“Kalau tindakan kuratif melalui obat-obatan tidak bisa maksimal terpenuhi, maka seyogyanya kita bersama-sama mengutamakan tindakan preventif, yaitu pencegahan. Pencegahan ini bisa dilakukan dengan cara alami maupun konsumsi obat yang sebelumnya umum digunakan di masyarakat, yaitu obat generik,” ujarnya kepada beberapa awak media, Sabtu (10/7/2201).

“Sebagai contoh jika sakit dengan gejala batuk pilek, maka konsumsi obat yang umum saja, yang biasanya dikonsumsi. Begitupun jika sakit rematik, sakit kepala, maupun sakit demam. Sebisanya kembali pada kebiasaan sebelumnya yang sudah terbukti manjur. Hal ini mengantisipasi agar tidak semua sakit dikembalikan pada obat-obatan yang dianggap sebagai terapi Covid-19,” selanjutnya.

Ning Lia juga menjelaskan treatment yang tidak bersifat konsumsi obat, juga bisa dilakukan. Diantaranya dengan mengoleskan minyak kelapa atau mengompres jika ada bagian tubuh demam, minyak kayu putih jika masuk angin, rutin berjemur di siang hari, dan menghirup uap air hangat. Sedangkan yang bersifat konsumsi, bisa diutamakan dengan minuman tradisional.

“Negeri kita subur, ada jahe, kunir, kunyit dan rempah-rempah atau empon-empon lainnya, bawang putih, madu, putih telor, susu sapi, dan sebagainya. Itu semua kan bisa dijadikan asupan sehari-hari sebagai tindakan preventif, bahkan bisa juga sebagai tindakan kuratif. Intinya bagaimana menguatkan asupan gizi dan kita semua saling meminimalisir resiko interaksi obat kimia, karena kondisi tubuh setiap orang beda,” jelas ketua DPD pertani HKTI Jatim, Ning Lia istifhama kepada awak media.

Ditambahkan, sangat penting dibangun persepsi agar masyarakat tidak khawatir atau panik, melainkan memiliki solusi ketika saat ini obat yang dianggap ampuh untuk penyembuhan Covid-19, cenderung dianggap langka," tandasnya.

(Gus/Red).