Hari Kesaktian Pancasila, Ning Lia: Momentum Penguat Esensi Pendidikan
Editor : Andi Dara | 12:10 WIB
News-Pantau.Com, SURABAYA - Seperti diketahui, Hari Kesaktian Pancasila adalah hari nasional di Indonesia yang diperingati setiap 1 Oktober sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 153/Tahun 1967. Peringatan tersebut sebagai bentuk terjaganya ideologi Pancasila dari bahaya laten komunis atau PKI. Dalam hal ini, pengingat akan kejinya Peristiwa G30S/PKI dimana enam jenderal serta beberapa orang lainnya dibantai sekelompok orang yang menurut otoritas militer saat itu Partai Komunis Indonesia. Gejolak yang timbul akibat G30S/PKI sendiri pada akhirnya berhasil diredam dan Pancasila tetap menjadi ideologi bangsa yang terjaga hingga saat ini.
Hari kesaktian Pancasila tentunya disikapi oleh banyak aktivis, tak terkecuali perempuan millenial ning Lia Istifhama. Secara virtual (30/9), Ibu dua anak yang sebelumnya mendapat penghargaan sebagai salah satu dari 22 Tokoh Muda Inspiratif Jatim versi Forum Jurnalis Nahdliyyin, menyebutkan bahwa Hari Kesaktian Pancasila adalah momentum penguat esensi pendidikan, terutama character building.
“Esensi pendidikan selain pendistribusian ilmu atau sharing knowledge, juga sebagai pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Dalam hal ini, bagaimana character building terbangun dan dibangun tidak lepas dari Pancasila sebagai pandangan hidup (way of life) bangsa ini.”
Ning Lia kemudian menjelentrehkan isi dari sila Pancasila, yaitu: yaitu (1) Ketuhanan yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan dan Perwakilan, dan (5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
“Ada aspek sosial dalam sila Pancasila. Ini jangan sampai dikaburkan karena kondisi temporal. Dalam hal ini, jangan sampai aspek psiko sosial atau yang sifatnya karakter modal sosial, tergerus dan hilang karena observasi yang kurang holistic terhadap situasi saat ini. Sebagai contoh, jangan sampai Pandemi menjadikan alasan suburnya sikap individualisme.”
Dosen yang kerap menulis di media cetak dan online tersebut, menegaskan bahwa nilai luhur Pancasila harus terinternalisasi secara optimal pada generasi penerus bangsa, terutama yang saat ini duduk di bangku sekolah.
“Kita akui, nilai-nilai Pancasila memang dimasukkan di lingkungan sekolah. Sebagai contoh, melalui pelajaran tematik Sekolah Dasar. Namun, berlangsungnya pembelajaran secara daring yang masih berlangsung bagi siswa SD kelas 1 hingga 5 saat ini, di Surabaya contohnya, tentu harus mendapatkan perhatian lebih. Yaitu dianalisa sejauh mana nilai-nilai Pancasila dipahami oleh anak-anak selama daring.”
“Analisa yang jelas terhadap penanaman nilai Pancasila tersebut sangat penting. Hal ini bukan hanya berkaitan tumbuh kembangnya jiwa nasionalisme mereka, melainkan juga bagaimana character building atau bangunan karakter bermoral sosial mereka tetap terbentuk dengan baik sesuai nilai Pancasila.”
“Setiap sila dalam Pancasila memiliki spirit dan ruh humanisme serta religius yang sangat kuat. Hal ini pondasi yang tidak bisa ditawar bagi mental dan moralnya anak didik,” pungkasnya.
(Gus/And).

