Positive Rate dibawah Standar Kemenkes, Pakar Biostatistika Unair: Sebut Surabaya Pantas Masuk PPKM Level 1
Editor : Andi Dara | 06:25 WIB
News-Pantau.Com, SURABAYA - Pakar biostatistika epidemiologi Universitas Airlangga Dr. Windhu Purnomo, dr., MS, menyatakan pantas bahwa Surabaya kini masuk PPKM Level 1 sesuai hasil asesmen Menteri Kesehatan.
Kepantasan tersebut dinilai Dr. Windhu karena kapasitas dan respon penanganan pandemi Covid-19 sudah sesuai dengan standar.
“Karena sudah sesuai dengan acuan dari WHO,” kata Dr. Windhu saat dikonfirmasi melalui seluler, Kamis (16/9/2021) malam.
Meski Surabaya sudah masuk PPKM level 1, Dr. Windhu mempunyai catatan khusus untuk pemkot Surabaya agar tren positif ini terus berlanjut.
“Jadi sudah menggabungkan atau mengkombinasikan antara transmisi komunitas yang tiga indikator dengan kapasitas respon yang juga tiga indikator, jadi seimbang gitu,” tambahnya.
Tiga indikator transmisi komunitas yang dimaksud adalah kasus konfirmasi yang dalam bahasa epidemologi berarti angka insidensinya per 100 ribu penduduk sudah bagus.
“Nilainya untuk Surabaya 8,81 per 100 ribu, itu sudah di bawah dari 20 karena nggak boleh lebih dari 20 standarnya. Rawat inapnya sudah 3,43 per 100 ribu itu sudah kurang dari 5 sebagai standarnya per 100 ribu, kemudian mortalitas atau kematian sudah 0,65 per 100 ribu, kan standarnya nggak boleh lebih dari 1 kan gitu. Jadi oke semua untuk transmisi di masyarakat,” terangnya.
Sedangkan tiga indikator kapasitas respon penanganan Covid-19 di Surabaya juga menunjukkan hasil cukup baik karena positivity ratenya sudah 0,41 persen sudah jauh di bawah standar yakni 5 persen.
“Tracing rationya sudah 1 banding 20,71 jadi sudah melebihi dari angka target dari kemenkes yaitu 1 banding 14, kemudian BORnya sudah 14,54 persen sudah jauh di bawah angka standar yaitu tidak boleh lebih dari 60 persen. Itu kan bagus semua,” tambahnya.
Meski nilai tiga indikator dari transmisi komunitas dan kapasitas respon sudah cukup bagus, Dr. Windhu mengingatkan Pemkot Surabaya dan seluruh warganya tidak berpuas diri maupun euforia. Karena dirinya mempunyai catatan khusus agar PPKM Level 1 ini tidak naik kembali, dengan melakukan testing dan tracing tidak boleh kendor dan tak boleh menganggap hasil bagus ini berkat kesadaran masyarakat vaksinasi.
“Kita harus hati-hati dengan angka-angka ini karena angka-angka ini kalau tidak dipertahankan dengan Surveillance yang bagus, Surveillance yang dimaksud adalah penemuan kasus harus tetap bagus, jadi jangan bersuka ria dengan level yang sudah bagus ini, nggak boleh kemudian kita lengah,” tegasnya
“Jadi itu harus jalan beriringan, jadi jangan karena terlalu sibuk dengan vaksinasi kemudian testing dan tracingnya mengendor, kita bisa balik lagi,” pungkas Dr. Windhu.
(And/Anm).
