Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berharap PTM Terbatas Berlaku Untuk Semua Siswa, Ning Lia: Anak Didik Butuh Dampingan

Editor : Andi Dara | 21:10 WIB

Dok.newspantau/istimewa.
Dr. Lia Istifhama, M.E.I., ketua III STAI Taruna Surabaya.
---------------------------------------------------------------------------

News-Pantau.Com, SURABAYA - Perlu diketahui, Kota Surabaya saat ini telah menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas disejumlah sekolah. Diberlakukannya PTM ini tentu melegakan para orang tua, tak terkecuali aktivis perempuan Lia Istifhama. Sekalipun, dirinya berharap izin PTM tersebut berlaku untuk siswa mulai kelas 1 hingga 6 sekolah dasar (SD).

“Tentu kita semua memahami bahwa pendidikan adalah pondasi penting bagi bangsa ini. Bagaimana character building terbentuk, salah satu indikator utama adalah pendampingan langsung saat generasi bangsa masih kanak-kanak. Oleh sebab itu, sangatlah penting tahapan karakter siswa yang saat ini masih duduk di bangku SD, mendapat dampingan yang layak oleh guru dan lingkungan sekolah,” kata Ning Lia Istifhama, saat dihubungi awak media lewat seluler, Selasa (14/9/2021).

Tokoh Literasi Millenial Jatim versi ARCI tersebut juga menjelaskan urgensi hari aksara internasional yang jatuh pada 8 September lalu. Menurutnya, konsep melek huruf bagi anak-anak bukan semata anak-anak piawai menulis via gawai. Namun bagaimana jemarinya secara nyata menulis huruf per huruf, kata per kata bahkan kalimat per kalimat.

“Aspek kognitif seperti itu sifatnya tidak otodidak jika bagi anak-anak. Melainkan harus ada dampingan rutin dan telaten. Jika selama ini daring, maka tentunya peran ibu di rumah sangat penting agar perkembangan anak-anak tidak terlambat. Namun, bagaimana jika ibu atau orang tuanya memiliki kesibukan bekerja dan kurang mampu mendatangkan guru privat? Inilah yang kita harus pikir bersama. Apa mungkin makna contextual learning tercapai sepenuhnya selama daring?,” paparnya.

Doktoral UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut, menjelaskan urgensi penerapan contextual learning. Yaitu konsep belajar yang merelavansikan dengan kehidupan nyata.

“Tematik yang berlaku di bangku SD, sangat istimewa dan responsif membangun konsep belajar yang menjadi stimultan logika anak memahami kehidupan nyata mereka. Dari tematik, anak-anak terbangun tahapan character building yang sesuai nilai Pancasila. Bagaimana mereka memiliki religiusitas, kesopanan, kepedulian pada orang lain di sekitarnya, hingga kemampuan menganalisa masalah,” ujarnya.

Dengan begitu, aktivis perempuan asal Surabaya tersebut kemudian berharap ada dampingan secara langsung dari guru melalui praktek PTM terbatas bagi SD di Surabaya.

“Guru memang memberikan ilmu selama proses pembelajaran jarak jauh atau daring. Namun mengukur kemampuan setiap siswa dalam memahami pelajaran, saya kira cara efektifnya memang harus melalui tatap muka. Guru akan mengamati langsung bagaimana tingkat konsentrasi anak, sikap sosial mereka pada teman sebaya, hingga kemampuan mereka mengerjakan tugas secara mandiri, bukan dari orang tua,” ungkap Ning Lia Istifhama.

(And/Hos).