Peduli Wong Cilik, Inilah Profil Anggota DPD RI Lia Istifhama, Senator Humble Pemaaf Jujur dan Inspiratif
Editor : Nur Fadilah | 19.00 wib
Anggota DPD RI dapil Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, M.E.I.
----------------------------------------------------------------
Jawa Timur, newspantau.com -- Nama Lia Istifhama selalu jadi sorotan publik usai terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah RI Dapil Jawa Timur dengan raihan suara spektakuler: 2.739.123 suara pada Pemilu 2024. Jumlah itu menjadikannya senator perempuan non-petahana dengan suara tertinggi secara nasional, hanya di bawah Komeng (Jabar) dan Gus Yasin (Jateng).
Meski keponakan mantan Gubernur Jatim sekaligus Ketum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, sosok Ning Lia justru dikenal humble dan dekat dengan rakyat. Ia bukan figur partai, melainkan aktivis sosial, advokat, akademisi, penulis, hingga musisi. Namanya mencuat di Jawa Timur karena juga sebagai putri bungsu KH Maskur Hasyim, tokoh NU ternama di Jawa Timur.
Humble, pemaaf, jujur, pejuang dan peduli wong cilik begitu citra kuat yang melekat pada Lia Istifhama. Dengan suara hampir tiga juta, Ning Lia membuktikan bahwa politik bukan melulu soal kekuasaan, tapi juga tentang ketulusan, kerja keras, dan kepedulian.
“Saya ingin publik tahu saya seperti kebanyakan orang, pernah jadi sales kartu kredit, karyawati biasa yang panas-panasan naik motor,” ungkapnya merendah.
Lia Istifhama dikenal gigih menuntut ilmu. Ia tercatat kuliah S1 di tiga kampus berbeda dalam waktu bersamaan yakni Universitas Airlangga (Unair), IAIN Sunan Ampel (kini UINSA), dan STID Taruna Surabaya.
Ia mengaku sukses menaklukkan jadwal padat berkat dukungan teman, sistem kuliah fleksibel, dan hobinya membaca. Ning Lia bahkan dijuluki “kutu buku” karena hampir setiap hari ke perpustakaan.
“Pernah ikut kuliah lintas prodi, bahkan beda angkatan. Jadi kadang yang paling tua sendiri,” candanya sambil tertawa.
Sejak mahasiswa, Ning Lia juga sudah bekerja part-time sebagai penerima tamu dan event organizer. Lulus S1, ia bekerja penuh waktu, termasuk menjadi sales kartu kredit seraya tetap kuliah.
Hingga tingkat Doktoral di UINSA pun ia jalani sambil bekerja sebagai karyawati dan dosen.
“Saya belajar mencuri waktu. S2 dan S3 saya jalani dengan beasiswa Kemenag, termasuk saat hamil,” kenangnya.
Salah satu momen kampanyenya yang unik terjadi di Madiun, ketika videonya viral di TikTok lantaran seorang ODGJ mencium bannernya. Alih-alih marah, Ning Lia merespons santai dan penuh empati.
“Orang ODGJ itu polos, nggak ada niat jelek. Anggap saja tanda tulus,” ujarnya bijak.
Setelah Pemilu, sempat muncul polemik pencatutan fotonya oleh rival di materi kampanye. Meski bisa membawanya ke ranah hukum, Ning Lia memilih memaafkan.
“Niat kami hanya edukasi. Politik harus jujur. Saya malah mengajak rival saling sinergi seperti saudara,” jelasnya.
Kiprah sosial Ning Lia pun tak main-main. Ia menerima beragam penghargaan bergengsi, di antaranya Woman of The Year Jatim 2023 (TIMES Indonesia), Pejuang Literasi Tahun 2024, 100 Tokoh Muda Nasional 2020 (APN) Tokoh Peduli Desa Wisata, Pertanian, Covid-19, Tokoh Sosial Inklusif dan Interaktif (2025) dan prestasi lainnya. *** @nur/and




