Berhasil Hadapi Transformasi Haji 2025, Anggota DPD RI Lia Istifhama Apresiasi Kerja Keras Kemenag dan PPIH
Jawa Timur, newspantau.com -- Pelaksanaan ibadah haji tahun 2025 mendapat apresiasi luas berkat kelancaran layanan dan tingginya kepuasan jemaah. Berdasarkan hasil evaluasi resmi, tingkat kepuasan jemaah haji Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 84,56 persen dalam kategori baik. Angka ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, di tengah tantangan signifikan berupa transformasi kebijakan layanan haji dari non-syarikah ke syarikah yang diterapkan pemerintah Arab Saudi.
Anggota DPD RI Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, secara khusus mengapresiasi Kementerian Agama (Kemenag), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), dan seluruh petugas haji yang terlibat. Ia menilai keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras, sinergi, dan dedikasi semua pihak yang ingin memastikan jemaah Indonesia bisa beribadah dengan aman dan nyaman.
“Ini adalah bukti nyata pengabdian luar biasa para petugas haji kita. Mereka sudah mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, dan hati demi kesuksesan operasional haji 2025. Saya sampaikan apresiasi setinggi-tingginya,” ujar Ning Lia.
Ning Lia memuji penerapan jargon pelayanan “Kompak, Responsif, Profesional” yang menurutnya telah dijalankan dengan sangat baik. Ia menilai hal itu menjadi kunci dalam menghadapi perubahan regulasi di Arab Saudi, yang tahun ini menerapkan sistem syarikah secara penuh.
“Tahun 2025 ini adalah masa transisi layanan yang tidak mudah. Sistem syarikah menuntut adaptasi cepat dari para petugas kita di lapangan. Alhamdulillah, mereka membuktikan mampu menjalankan tugas dengan baik,” tambahnya.
Meski memuji pencapaian, Ning Lia menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan. Menurutnya, ada sejumlah catatan juga muncul sebagai masukan untuk perbaikan layanan ke depan. Salah satu sorotan utama adalah aspek digitalisasi.
“Proses biometrik masih menghadapi berbagai kendala, terutama di daerah-daerah yang perangkat pendukungnya terbatas. Selain itu, banyak jemaah khususnya lansia mengalami kesulitan menggunakan aplikasi Nusuk. Ini jadi PR bersama untuk kita carikan solusi,” jelasnya.
Selain masalah digitalisasi, Ning Lia juga menyinggung pembagian kafilah dan syarikah yang di beberapa lokasi belum ideal. Sistem yang belum merata membuat jemaah terpencar dan menyulitkan petugas dalam memberikan layanan bimbingan ibadah secara optimal.
“Banyak laporan jemaah lansia yang mengalami kesulitan dalam menjalankan rukun haji karena kurangnya pemahaman teknis. Ini menunjukkan pentingnya memperkuat manasik, pendampingan, dan pembekalan jauh-jauh hari sebelum berangkat,” tegasnya.
Menurut Ning Lia, saat ini harus ada ruang strategis untuk memperkuat koordinasi antarinstansi dan memperbaiki kekurangan demi meningkatkan kualitas layanan pada haji 2026. Ia mendorong Kemenag dan PPIH untuk makin serius dalam mengembangkan inovasi layanan, terutama yang ramah digital dan inklusif untuk lansia.
Dengan evaluasi komprehensif ini, pemerintah Indonesia diharapkan bisa memperkuat persiapan penyelenggaraan ibadah haji 2026, sehingga jemaah Tanah Air dapat menunaikan rukun Islam kelima dengan semakin aman, nyaman, dan khusyuk.


.jpg)