Kelangkaan BBM di Jember: Senator Lia Istifhama Warning Pertamina, Jangan Main main dengan Energi Rakyat
Editor : Salamun | 23.00 wib
Anggota DPD RI Lia Istifhama saat menyoroti soal kelangkaan BBM di Jember, Senin (28/7/2015).
----------------------------------------------------------------
Jember, newspantau.com -- Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Jember akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) mengundang perhatian publik. Tak hanya menyebabkan kemacetan parah, situasi ini bahkan berdampak pada kegiatan belajar-mengajar hingga adanya kebijakan libur sekolah.
Menanggapi hal tersebut, anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyampaikan keprihatinan mendalam. Menurutnya, kelangkaan BBM yang memicu kericuhan di lapangan merupakan bentuk ketidaksiapan dalam memastikan kelancaran distribusi energi bagi masyarakat.
“BBM langka dan menimbulkan situasi tidak kondusif, seperti kericuhan di tengah antrean panjang di SPBU, tentu sangat disayangkan. Ketika masyarakat mempercayakan kelancaran aktivitas mereka lewat transportasi darat yang bergantung pada BBM, maka kepercayaan itu harus dijaga dengan memastikan pasokan tersedia,” tegas Ning Lia dalam keterangannya, Senin (28/7).
Anggota DPD RI Lia Istifhama saat menyoroti soal kelangkaan BBM di Jember, Senin (28/7/2015).
----------------------------------------------------------------
Senator yang dikenal suka Mudun Ngisor ini menilai fluktuasi kebutuhan BBM di daerah seperti Jember seharusnya dapat diprediksi dan diantisipasi sejak awal.
“Saya kira pemasok BBM di Jember tentu sudah paham kebutuhan harian dan mingguan masyarakat. Fluktuasi BBM saat ini seharusnya tidak ekstrem, karena secara nasional, situasi negara kita dalam keadaan baik-baik saja. Jika pun ada force majeure seperti bencana atau krisis besar, itu baru bisa menjadi alasan terjadinya disparitas antara demand dan supply,” ujarnya.
Ning Lia pun menyayangkan apabila kemacetan di jalur strategis seperti Gumitir dan Ketapang dijadikan alasan utama terganggunya distribusi.
“Kalau alasan kemacetan di jalur distribusi jadi pemicu, maka seharusnya itu sudah masuk dalam skema antisipasi sejak awal. Saya yakin pihak seperti Pertamina maupun distributor memiliki data dan simulasi distribusi logistik yang matang,” tambahnya.
Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, terutama Pertamina, menjadikan situasi sosial yang muncul di lapangan sebagai bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyaluran BBM.
“Jangan sampai keterlambatan atau kelangkaan BBM memicu konflik horizontal, apalagi sampai berdampak pada dunia pendidikan. Semua pihak harus memiliki rencana kontingensi untuk kondisi-kondisi seperti ini,” tutupnya. *** @salamun


