Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ponpes Khadijah di Mata DPD RI Lia Istifhama: Solusi Pendidikan Religius Modern Di Kota Metropolis

Editor : Nur Fadilah | 11.30 wib
Anggota DPD RI Lia Istifhama (tengah).
SURABAYA, NewsPantau.com – Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan yang tak pernah tidur, Pondok Pesantren Khadijah hadir sebagai oase spiritual yang menyejukkan. Terletak di jantung Kota Surabaya, pondok ini tidak sekadar menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembinaan karakter dan peradaban Islam yang membumi.

Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, memberikan apresiasi mendalam terhadap peran strategis Ponpes Khadijah. Dalam kunjungannya, Ning Lia sapaan akrabnya menyebut keberadaan pesantren di tengah kota adalah jawaban atas kebutuhan akan pendidikan yang menyeimbangkan antara ilmu dunia dan akhirat.

“Pondok pesantren seperti Khadijah ini merupakan jawaban atas tantangan zaman. Di tengah arus digitalisasi dan budaya instan, pesantren menjadi benteng moral dan spiritual yang kokoh. Tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlakul karimah dan kedewasaan berpikir,” ujarnya.

Ponpes Khadijah memiliki ciri khas tersendiri sebagai pesantren yang memadukan kurikulum salafiyah dengan sistem pendidikan modern. Model ini, menurut Ning Lia, sangat relevan dalam menjawab isu pendidikan di era modern tanpa menghilangkan akar nilai-nilai islami.
Anggota DPD RI Lia Istifhama (tengah).
“Khadijah adalah simbol keteladanan muslimah dalam sejarah Islam. Maka tidak heran jika pesantren ini mampu mencetak generasi yang kuat, berilmu, dan beriman,” tambahnya.

Dengan kepadatan dan kompleksitas sosial yang tinggi, Surabaya sebagai kota besar membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya mengandalkan aspek kognitif. Ponpes Khadijah hadir membawa angin segar dengan pendekatan ruhiyah (spiritualitas), akhlak, serta kecakapan sosial.
Senator Cantik itu ini menilai kehadiran pesantren di kota besar bukanlah hal yang asing, justru menjadi bukti bahwa Islam sangat adaptif dan mampu hidup harmonis di tengah kemajuan zaman.

“Pesantren di kota besar bukan sekadar bisa eksis, tapi justru menjadi solusi. Ini menandakan nilai-nilai Islam tidak berbenturan dengan kemajuan, tapi mampu membimbingnya,” tegas Ning Lia.
Dalam momentum kunjungan tersebut, Ning Lia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap eksistensi pesantren di perkotaan, baik dari sisi regulasi, pembiayaan, hingga pengembangan sarana dan prasarana.

Ia mendorong implementasi nyata dari UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren agar bisa menyentuh langsung kebutuhan pesantren-pesantren yang berjuang di tengah kota-kota besar seperti Surabaya.

“Pesantren harus mendapat tempat yang layak dalam pembangunan nasional. Mereka bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga penjaga identitas bangsa,” pungkasnya.  *** @nurf/and