Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anggota DPD RI Lia Istifhama: Pentingnya Jaga Demokrasi Sehat, Jatim Jangan Tercoreng Aksi Unfaedah

Editor : Nur Fadilah | 03.00 wib
Anggota DPD RI Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, M.E.I.

SURABAYA, NewsPantau.com – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan pentingnya menjaga demokrasi tetap sehat di tengah dinamika politik dan rencana aksi 3 September mendatang. Menurutnya, aksi yang dinilai inkonstitusional justru berpotensi merusak nilai luhur demokrasi yang sudah dibangun dengan penuh perjuangan.

Ning Lia sapaan Lia Istifhama menegaskan, Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 memang memberikan jaminan kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan itu tidak boleh dimaknai secara absolut tanpa batas. 

“Demokrasi yang sehat selalu membutuhkan koridor hukum, etika, dan tanggung jawab moral. Jika dilanggar, justru akan menimbulkan keresahan dan preseden buruk bagi masyarakat, terutama generasi muda,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan ketentuan Pasal 9 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yang menegaskan setiap orang berhak hidup damai dan tenteram. 

“Setiap bentuk aksi yang berpotensi mengganggu kondusivitas berarti merampas hak orang lain untuk hidup damai. Itu bisa dikategorikan pelanggaran HAM,” tegas Ning Lia.

Menurutnya, Indonesia saat ini tengah berada pada momentum penting dalam kancah global. Program Go to Global yang digagas Presiden Prabowo, termasuk kerjasama strategis seperti EU CEPA, menempatkan Jawa Timur sebagai pusat perdagangan internasional. 

“Momentum emas ini jangan sampai tercoreng oleh aksi-aksi yang tidak konstruktif. Justru kita harus menjaga stabilitas agar capaian bangsa tidak terganggu,” imbuhnya.

Ning Lia yang juga pernah ikut demonstrasi di masa lalu menegaskan, aksi publik tetap sah sejauh tuntutannya jelas, jalurnya konstitusional, dan orientasinya solusi. 

“Demonstrasi yang sehat itu normal. Tapi jangan sampai menuntut hal-hal imajinatif yang justru menyesatkan dan tidak menyentuh akar persoalan rakyat,” tambahnya.

Lebih jauh, Lia menilai bahwa perjuangan bangsa selama ini tidak pernah dilakukan dengan tindakan anarkis, melainkan lewat perjuangan terarah, penuh pengorbanan, dan menjunjung tinggi nilai kebangsaan. Hal itu yang menurutnya harus diwariskan kepada generasi penerus.

“Tugas kita sebagai orang tua adalah memberi teladan. Anak-anak harus dididik agar tidak terjebak pada aksi-aksi yang kontraproduktif. Era media sosial semakin memperberat tantangan, maka kita dituntut bijak agar tidak mudah terprovokasi informasi sepotong-sepotong,” jelas Ning Lia.

Menutup pernyataannya, Senator Cantik itu menekankan demokrasi bukan hanya tentang kebebasan, melainkan juga tentang tanggung jawab. 

“Menjadi warga negara yang baik berarti menjaga ruang publik tetap sehat, damai, dan produktif. Aksi 3 September harus jadi momentum introspeksi: apakah langkah kita mendidik generasi, atau justru memberi teladan yang keliru,” pungkasnya.  *** @nurf