Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gubernur Khofifah Intens Turun Langsung Penanganan Santri Korban Amburuknya Al Khozini, Senator Jatim: Kepedulian Penuh Haru

Editor : Andi SHM | 08.00 wib
Gubernur Khofifah, Wagub, Sekdaprov dan jajaran pemprov jatim saat mengunjungi musibah ponpes al khoziny buduran, Sidoarjo (30/9) malam.

Jakarta, NewsPantau.com -- Seperti diketahui, Bangunan mushala lantai tiga Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, roboh saat digunakan ratusan santri melaksanakan sholat Ashar berjamaah, Senin (29/9/2025), kemarin. Hingga kini, proses evakuasi masih terus dilakukan akibat terdapat santri yang masih tertimbun puing bangunan. 

Situasi memprihatinkan tersebut menuai kepedulian tinggi dari banyak pihak. Tentu, hal ini tampak dari orang nomer satu di Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Pada Selasa, 30/9, ia pun menegaskan evakuasi akan dilakukan maksimal sampai tuntas. Itu dilakukan untuk menyelamatkan korban hingga dipastikan tidak ada satu orang pun tertinggal. 

"BPBD Provinsi Jatim dan BPBD SIDOARJO, Basarnas , TNI- POLRI  bersama seluruh relawan lintas organisasi dan lintas sektor terus melakukan evakuasi korban secara maksimal dan tanpa henti," kata Khofifah.

Hingga kini, BPBD, Basarnas dan relawan bersama pihak kepolisian dan TNI terus melakukan penyisiran di antara reruntuhan  untuk memastikan penanganan korban. 

Khofifah menjelaskan, ekskavator standby agar setiap saat dibutuhkan langsung  gerak. Namun, kondisi reruntuhan bangunan saat ini  belum memungkinkan menggunakan ekskavator.
Gubernur Khofifah, Wagub, Sekdaprov dan jajaran pemprov jatim saat mengunjungi musibah ponpes al khoziny buduran, Sidoarjo (1/10).

"Proses evakuasi terus berlanjut memberikan layanan apabila ada yang masih bisa berkomunikasi di bawah reruntuhan, termasuk memberikan oksigen dan air sehingga ada ketahanan tubuh juga deteksi monitor peralatan yang disiapkan," ucapnya.  

Terkait kondisi wali santri yang saat ini sedang kalut menanyakan kondisi anaknya, Pemprov Jatim bersama pengasuh pondok membuka Crisis Center yang berada di lokasi pondok. 

"Crisis center itu yaitu tim lintas instansi dan pengasuh pondok untuk memfasilitasi wali santri yang menanyakan kondisi anaknya," kata Khofifah. 

Puluhan mobil ambulans juga masih siaga. Kendaraan tersebut untuk mengevakuasi para korban agar langsung dilarikan ke rumah sakit. 

"Ada 5 rumah sakit, yakni RSI Siti Hajar, RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya RS Sheila Medika dan RSUD Sidoarjo," jelsas Khofifah.

Khofifah sendiri memang langsung turun ke lokasi dan meninjau langsung kondisi Pondok Pesantren al Khoziny. Hal serupa juga dilakukan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elestianto Dardak dan Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono.

Perhatian tinggi para petinggi Jatim tersebut menuai reaksi positif banyak pihak. Lia Istifhama, diantaranya. 
Gubernur Khofifah, Wagub, Sekdaprov dan jajaran pemprov jatim saat mengunjungi musibah ponpes al khoziny buduran, Sidoarjo (1/10).

“Gerak cepat dan kompak dari Gubernur, Wagub, Sekdaprov dan jajaran Pemprov Jatim, menunjukkan kekompakan kepedulian dan tentu kita semua berharap proses evakuasi segera tuntas dan seluruh korban yang selamat mendapatkan penanganan terbaik dan lekas sembuh, ujar senator perempuan itu, saat ditemui di sela dialog kebangsaan di Gedung Nusantara V Senayan, Jakarta, Senin (30/9/2025).

Ning Lia, sapaan akrabnya, juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah tersebut, terlebih hingga 1/10 dini hari, dikabarkan tiga korban meninggal, puluhan luka-luka, dan 38 santri diduga tertimbun reruntuhan. 
Dr. Lia Istifhama saat dialog dengan kemendikdasmen di Jakarta, terharu gubernur Khofifah turun langsung tangani santri yang terkena musibah di ponpes al khoziny buduran, Sidoarjo, Rabu (1/10).

“Gubernur, wagub, Sekdaprov, BNPB, dan BPBD menunjukkan kekompakan dan kepedulian tinggi yang sangat mengharukan kita semua. Beliau-beliau menunjukkan bahwa ini duka kita bersama, bukan sebatas duka para wali santri, karena ini menimpa santri-santri yang memiliki niat mulia mencari ilmu.”

“Saya sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak dengan menempuh pendidikan pesantren, merasakan kepedihan, duka mendalam. Kami sebagai orang tua, sebagai wali santri, menahan rindu selama anak-anak menempuh pendidikan di sebuah pesantren. Maka kabar duka seperti ini, bagi saya yang bukan wali santri diponpes tersebut, ikut merasakan kesedihan mendalam. Karena santri adalah pencari ilmu, mereka pelita atau cahaya kehidupan. Ini cobaan yang begitu mendalam bagi kita semua.”  *** @andi/nurf