Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makna Hari Santri Nasional 2025: Senator Lia Istifhama Tegaskan Santri Garda Terdepan Bangsa

Editor : Andi SHM | 15.30 wib
Tengah: Dr. Lia Istifhama Anggota DPD RI asal Jawa Timur.

Surabaya, NewsPantau.com – Momentum Hari Santri Nasional 2025 menjadi refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa untuk menegaskan kembali peran besar santri dalam sejarah perjuangan Indonesia. 

Salah satu tokoh perempuan Nahdlatul Ulama, anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur hadir untuk memperkuat keberdayaan santri agar semakin siap menghadapi tantangan global.

Dalam keterangannya, Ning Lia menekankan pentingnya negara hadir dalam setiap proses pemberdayaan santri, baik di bidang pendidikan, sosial, maupun pengembangan karakter.

“Hari Santri ini bukan sekadar seremonial. Pemerintah, khususnya Pemprov Jatim, hadir untuk memastikan santri memiliki daya saing, kemampuan adaptif, dan karakter tangguh. Karena dari pesantrenlah lahir generasi berilmu dan berintegritas tinggi,” tutur Ning Lia Istifhama, pada Rabu (22/10), dalam dialog Surabaya Pagi di RRI.

Dalam kesempatan sebagai narasumber bersama Gus Burhanudin, Pengasuh Pondok Pesantren Queen Arriyadl Kediri, ning Lia juga mengajak masyarakat untuk kembali merenungkan akar sejarah Hari Santri, yang berawal dari Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar para santri dan kiai.

“Dulu, para santri bukan hanya belajar agama. Mereka adalah pejuang sejati yang berlandaskan semangat hubbul waton minal iman — cinta tanah air sebagian dari iman. Spirit itulah yang harus kita jaga dan teruskan,” jelasnya.

Ia menambahkan, generasi muda saat ini yang menikmati kemerdekaan merupakan penerus semangat juang para santri terdahulu. Karena itu, peran negara harus hadir dalam menjaga keberlangsungan pesantren serta peningkatan kemampuan santri di berbagai bidang.
Menurut Ning Lia, santri merupakan cerminan generasi emas bangsa yang memiliki karakter kuat dan berakhlak mulia. Ia menegaskan bahwa santri bukan hanya pewaris nilai-nilai religius, tetapi juga agen perubahan yang siap menghadapi tantangan global dengan kemampuan adaptif dan integritas tinggi.

“Kalau berbicara generasi emas, maka karakter santri adalah fondasi utamanya. Mereka cerdas, berdaya juang tinggi, dan memiliki tanggung jawab moral yang kuat terhadap bangsa,” tegasnya.

Sebagai bentuk inspirasi, Ning Lia memperkenalkan makna akronim dari kata SANTRI, yaitu:
S – Smart (Cerdas)
A – Adaptive (Adaptif)
N – Networking (Bersinergi)
T – Tough (Tangguh)
R – Responsibility (Bertanggung Jawab)
I – Integrity (Berintegritas)

“Santri adalah pribadi yang ditempa jauh dari keluarga, belajar hidup mandiri, dan menyalakan cahaya ilmu sebagai bekal menapaki masa depan. Mereka harus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah bangsa di tengah ujian zaman,” pungkasnya dengan penuh semangat.

Momentum Hari Santri Nasional 2025 menjadi pengingat bahwa santri tidak hanya berperan dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga dalam membangun peradaban bangsa. Dengan semangat “Santri Bangkit, Indonesia Bermartabat,” Lia Istifhama mengajak seluruh santri di Indonesia untuk terus belajar, beradaptasi, dan berkontribusi bagi negeri.  *** @andi/nurf