Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bertemu Senator Lia Istifhama, Mendukbangga Wihaji Peringatkan Anak Kecanduan Gawai dan Demokrasi Instan

Editor : Nur Fadilah | 11.30 wib
Kanan: Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur saat giat Kunjungi Mendukbangga Wihaji. (Foto Istifhama).

JAKARTA, NewsPantau.com — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga/BKKBN) Wihaji mengeluarkan peringatan serius terkait meningkatnya kecanduan gawai pada anak dan remaja yang berdampak langsung pada cara berpikir generasi muda, termasuk dalam memahami demokrasi. Fenomena tersebut dinilai berbahaya karena melahirkan pola pikir serba instan yang dibentuk oleh algoritma media sosial.

Peringatan itu disampaikan Wihaji saat menerima kunjungan Senator DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, di kantor Mendukbangga/BKKBN, Kamis (15/1). Keduanya membahas dampak media sosial terhadap pengasuhan anak, pembentukan karakter, serta kualitas demokrasi ke depan.

Menurut Wihaji, banyak anak saat ini menghabiskan waktu 7–8 jam per hari hanya untuk bermain gawai. Kondisi tersebut membuat anak mengalami ketergantungan, bahkan memengaruhi kerja otak dan cara mereka menyerap informasi.

 “Anak-anak kita kecanduan gawai. Cara berpikirnya dipengaruhi algoritma media sosial dan opini netizen. Ini berbahaya jika dibiarkan, apalagi dalam konteks demokrasi,” tegas Wihaji.

Ia menjelaskan, demokrasi instan yang lahir dari linimasa media sosial rawan melahirkan sikap reaktif, dangkal, dan minim empati. Tanpa pendampingan keluarga, anak mudah menyerap narasi tanpa proses berpikir kritis.

Karena itu, Wihaji menekankan pentingnya mengembalikan keluarga sebagai ruang utama pendidikan nilai, etika, dan cara berpikir. Pengasuhan, menurutnya, tidak bisa diserahkan kepada gawai atau media sosial.
Kanan: Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur saat giat Kunjungi Mendukbangga Wihaji. (Foto Istifhama).

Senator Lia Istifhama menyampaikan pandangan sejalan. Ia menilai kecanduan gawai dan dominasi media sosial membuat anak kurang peduli terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

 “Kalau anak belajar nilai dari media sosial, yang terbentuk adalah logika netizen. Padahal kepedulian sosial dan politik harus ditanamkan dari keluarga,” ujar Lia.

Ia menambahkan, keluarga merupakan pintu pertama pendidikan demokrasi yang sehat—tempat anak belajar dialog, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.

Pertemuan tersebut menegaskan komitmen Mendukbangga/BKKBN bersama DPD RI untuk mendorong penguatan peran keluarga sebagai benteng utama menghadapi dampak negatif era digital, sekaligus menjaga masa depan generasi dan kualitas demokrasi Indonesia.  *** @nurf/red