Haul ke-516 Tahun Sunan Drajat: Rangkaian Ibadah dan Aksi Sosial Menghidupkan Warisan Kepedulian Sang Waliyullah
Editor : Andigo | 21.00 wib
Dok.newspantau/istimewa.
DEMAK, NewsPantau.com -- Peringatan haul ke-516 Kanjeng Sunan Drajat tahun ini berlangsung semarak dan sarat makna. Tidak hanya menjadi agenda ziarah religius, rangkaian kegiatan yang digelar sejak pra acara hingga puncak haul menjelma sebagai perwujudan nyata nilai-nilai kepedulian sosial yang sejak dahulu diajarkan Raden Qosim, waliyullah besar anggota Wali Songo.
Peringatan haul ke-516 Kanjeng Sunan Drajat tahun ini berlangsung semarak dan sarat makna. Tidak hanya menjadi agenda ziarah religius, rangkaian kegiatan yang digelar sejak pra acara hingga puncak haul menjelma sebagai perwujudan nyata nilai-nilai kepedulian sosial yang sejak dahulu diajarkan Raden Qosim, waliyullah besar anggota Wali Songo.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 7 Februari 2026 dengan pelaksanaan sunat massal dan santunan anak yatim. Suasana penuh kepedulian tampak jelas saat anak-anak bersama keluarga mereka mengikuti kegiatan tersebut. Wajah tegang bercampur berani terlihat pada peserta sunat massal, yang disambut dengan dukungan moral dan doa dari para pendamping.
Pada saat yang sama, pemberian santunan kepada anak-anak yatim menghadirkan momen haru sekaligus kebahagiaan. Senyum tulus mereka menjadi pengingat kuat akan ajaran Sunan Drajat yang menekankan pentingnya menolong sesama, terutama mereka yang berada dalam keterbatasan.
Sebagai tokoh penyebar Islam, Sunan Drajat dikenal melalui pendekatan dakwah bil hal, yakni mengajarkan agama melalui tindakan nyata. Falsafah hidup beliau yang mengajarkan untuk memberi makan kepada yang lapar, melindungi yang membutuhkan, menuntun yang lemah, dan memuliakan sesama terus menjadi inspirasi dalam setiap kegiatan sosial yang menyertai peringatan haul.
Puncak haul yang digelar pada tanggal 14 menjadi titik kulminasi seluruh rangkaian acara. Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks makam Sunan Drajat untuk mengikuti doa bersama dan pengajian. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat menggema, menciptakan suasana khidmat yang menyatukan jamaah dalam ikatan spiritual.
Koordinator pelestarian sejarah Sunan Drajat, Luqman Hakim, menyampaikan bahwa keseluruhan rangkaian kegiatan dirancang untuk menghadirkan kembali ajaran sosial Sunan Drajat dalam kehidupan masyarakat.
Dok.newspantau/istimewa.
“Haul ini menjadi momentum untuk mengingat sekaligus mengamalkan ajaran beliau. Kegiatan olahraga dan aksi sosial adalah bentuk nyata bagaimana nilai kepedulian terus kita hidupkan,” ujarnya.
Sementara itu, Luqman Hakim, keturunan sekaligus juru kunci, menjelaskan bahwa sejarah perjuangan Sunan Drajat tersimpan dalam manuskrip kuno yang diwariskan secara turun-temurun sejak masa penjajahan Belanda. Naskah tersebut masih terjaga di Rumah Ndalem Raden Qosim Sunan Drajat sebagai bukti kesinambungan sejarah keluarga.
Secara historis, kiprah Sunan Drajat mendapat pengakuan dari Kesultanan Demak. Pada tahun 1484 Masehi, Sultan Raden Fatah menetapkan beliau sebagai penguasa tanah perdikan Drajat dengan gelar Sunan Mayang Madu. Pengakuan ini menegaskan peran beliau sebagai pemimpin spiritual sekaligus tokoh sosial yang membawa kemajuan bagi masyarakat.
Peringatan haul ke-516 ini menunjukkan bahwa warisan Sunan Drajat tetap hidup di tengah masyarakat modern. Perpaduan antara kegiatan religius, olahraga, dan aksi sosial mencerminkan pesan utama dakwah beliau: membangun kehidupan yang seimbang antara spiritualitas dan kepedulian kemanusiaan.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, masyarakat diajak tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga melanjutkan semangat berbagi dan persaudaraan yang menjadi inti ajaran Sunan Drajat—sebuah warisan luhur yang terus relevan sepanjang zaman ujar Hendri Fachrudin salah satu keluarga besar sekaligus narasumber. *** @andigo/red

