Mobilitas Lebaran Tinggi, Anggota DPD RI Lia Istifhama Ingatkan Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan Penularan Penyakit, Campak!
Editor : Syamsul Anam | 03.00 wib
Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur. (Dok.istimewa).
SURABAYA, NewsPantau.com — Meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang dan selama perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 H, berpotensi memicu penularan berbagai penyakit menular, salah satunya campak. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam melindungi anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih rentan.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengingatkan bahwa tradisi silaturahmi saat Lebaran yang melibatkan banyak pertemuan dan kerumunan dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk campak.
“Ini tetap menjadi kewaspadaan kita bersama, terutama menjelang hari raya. Mobilitas masyarakat meningkat dan banyak aktivitas berkumpul, sehingga risiko penularan penyakit juga ikut meningkat,” ujar Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam berinteraksi dengan bayi dan balita saat bersilaturahmi. Menurutnya, kebiasaan memegang atau mencium anak kecil secara langsung dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
“Salah satu yang perlu diingat, jangan sembarangan memegang atau mencium anak-anak, terutama bayi dan balita. Daya tahan tubuh mereka masih sangat rentan,” katanya.
Peringatan tersebut sejalan dengan imbauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran. Mobilitas masyarakat yang meningkat serta potensi kerumunan dinilai dapat memperbesar risiko penularan penyakit menular, khususnya pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga minggu ke-8 tahun 2026 tercatat 10.453 suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi di Indonesia.
Kemenaker mencatat tren kasus campak sempat meningkat pada Januari 2026, namun mulai menunjukkan penurunan sepanjang Februari. Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak lengah karena aktivitas perjalanan mudik dan pertemuan keluarga besar berpotensi meningkatkan penularan.
Ning Lia menekankan bahwa salah satu langkah paling efektif untuk mencegah campak adalah melalui imunisasi. Ia mengingatkan para orang tua agar memastikan anak-anak mereka telah mendapatkan vaksin sesuai jadwal.
“Anak yang belum kenal berbagai virus atau bakteri perlu dikenalkan melalui vaksin agar antibodinya terbentuk. Dengan begitu, ketika terkena penyakit, tubuhnya sudah memiliki pertahanan untuk melawannya,” jelasnya.
Imunisasi campak-rubela diberikan dalam tiga dosis, yakni saat anak berusia 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan dosis penguat pada usia 18 bulan serta saat anak berusia 6–7 tahun.
Selain memastikan imunisasi lengkap, Ning Lia juga mengajak masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker saat berada di kerumunan.
Menurutnya, kewaspadaan bersama menjadi kunci penting untuk mencegah penyebaran penyakit, terutama pada momentum besar seperti Idulfitri yang identik dengan aktivitas silaturahmi dan perjalanan jarak jauh.



