Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tranformasi Sampah Jadi Energi di Jatim, Senator Lia Istifhama Apresiasi Langkah Gubernur Khofifah: Peran PSEL dan Gerakan ASRI untuk Lingkungan Hidup Bersih dan Sehat

Editor : Andi Makasar | 16.30 wib
Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur. (Dok. NP/Istimewa).

SURABAYA, NewsPantau.com – Upaya mengubah persoalan klasik sampah menjadi solusi energi masa depan mulai menunjukkan arah yang jelas di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jatim di bawah kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa mendorong kolaborasi lintas daerah untuk menghadirkan energi baru terbarukan berbasis limbah melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Langkah strategis ini mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI, Lia Istifhama, yang menilai kebijakan tersebut sebagai transformasi konkret dari masalah menjadi peluang besar bagi masa depan lingkungan dan energi nasional.

Khofifah menegaskan bahwa kerja sama lintas wilayah bukan sekadar pengelolaan sampah biasa, melainkan bagian dari agenda besar transisi energi.

Program PSEL di Jawa Timur mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 105 Tahun 2025, yang mensyaratkan minimal 1.000 ton sampah per hari untuk operasional optimal.
Surabaya Raya
Pasokan sampah: ±1.100 ton/hari
Lokasi rencana: Sumberejo, Pakal, Surabaya
Malang Raya
Pasokan sampah: ±1.138,9 ton/hari
Lokasi rencana: Desa Bunut Wetan, Pakis, Kabupaten Malang.

Dengan volume tersebut, proyek ini dinilai layak secara teknis dan ekonomis untuk dikembangkan menjadi pembangkit energi alternatif.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memastikan akan melakukan koordinasi intensif, monitoring, serta evaluasi berkala agar implementasi berjalan transparan dan berkelanjutan.

Gerakan ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang digagas oleh Prabowo Subianto menjadi fondasi baru dalam pembenahan tata kelola lingkungan secara nasional.

Menurut Lia Istifhama, gerakan ini bukan sekadar program simbolik, tetapi momentum besar dalam membangun sistem kebersihan yang lebih terstruktur dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

“Gerakan tersebut tidak sekadar menghadirkan perubahan visual, tetapi juga menegaskan komitmen pemerintah dalam melakukan pembenahan menyeluruh di berbagai sektor dengan langkah cepat dan terukur,” tutur Lia, pada Minggu (29/03).

Pendekatan yang dimulai dari desa hingga tingkat nasional dinilai mampu memberikan dampak langsung dan cepat dirasakan masyarakat.

Lia menegaskan pentingnya penggunaan teknologi pengolahan sampah modern yang: Tidak menimbulkan bau, Ramah lingkungan, Bisa dioperasikan di tingkat kelurahan/kecamatan. Beberapa lembaga pendidikan bahkan telah mengembangkan alat pemusnah sampah skala kecil yang dinilai efektif dan aplikatif.

“Kehadiran alat pengolahan sampah di tingkat wilayah paling bawah akan memangkas ketergantungan pada tempat pembuangan akhir.” katanya.

Dengan sistem ini, sampah tidak lagi menumpuk di TPA, tetapi dapat diselesaikan lebih cepat dan efisien langsung dari sumbernya.

Gerakan ASRI yang berjalan seiring dengan konsep pembangunan terintegrasi diharapkan mampu: Mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, Meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan Membangun budaya hidup bersih dan sehat.

“Program tersebut ditargetkan mulai direalisasikan dalam waktu dekat dengan harapan perubahan nyata dapat segera dirasakan oleh masyarakat di seluruh Indonesia,” pungkas Lia.  *** @andimakasar/red