Prihatin! Jawa Timur Lonjakan Kasus HIV AIDS di Indonesia, Senator Cantik Ning Lia: Pemerintah harus Hadir Edukasi ke Masyarakat Minim Komunitas
Editor : Nur Fadilah | 11.00 wib
SURABAYA, NewsPantau.com -- Ketika publik disibukkan oleh stunting, tuberkulosis, dan penyakit tidak menular, epidemi HIV di Indonesia terus berkembang dalam senyap. Ia tidak menimbulkan kepanikan seperti Covid-19, tetapi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan produktivitas penduduk usia kerja sangat besar.
Yang mengkhawatirkan, ketika banyak negara berhasil menurunkan infeksi baru HIV secara signifikan, Indonesia justru masih menghadapi tantangan besar dalam menemukan dan mengobati penderita.
Di Sidoarjo kasus HIV AIDS meningkat tajam dalam 3 bulan terakhir yaitu mencapai 7129 penderita. Bahkan data terbaru Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 orang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia.
Namun hingga Maret 2025, baru sekitar 356.638 orang atau 63 persen yang mengetahui statusnya. Dari mereka yang telah teridentifikasi, hanya 67 persen yang menjalani terapi antiretroviral (ARV), dan sekitar 55 persen yang berhasil mencapai supresi virus.
Dengan kata lain, hampir separuh penderita HIV di Indonesia masih berada di luar sistem pengobatan yang optimal.
Menanggapi peristiwa tersebut, senator muda berparas cantik Lia Istifhama menyampaikan keprihatinannya yang mendalam. Namun pihaknya menyadari bahwa hingga saat ini anggaran di sektor kesehatan terserap oleh MBG (Makan Bergizi Gratis), program unggulan presiden Prabowo Subianto
“Ada pengurangan anggaran yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk yang lain, salah satunya pemeriksaan HIV AIDS gratis di Puskesmas atau Posyandu. Termasuk di sekolah SMA SMK dan perguruan tinggi. Dengan melakukan deteksi dini, saya yakin bisa mengurangi atau menekan penyebaran virus HIV AIDS,” terang anggota DPD RI dari Jawa Timur ini.
Menurut Ning Lia, panggilan akrab Lia Istifhama, melakukan pemeriksaan kesehatan tersebut, sifatnya mendadak. Agar warga yang tengah memeriksa kesehatan diri ke Puskesmas, Posyandu, sekolah-sekolah dan warga Kampus tidak bisa menghindar.
“Sehingga kita bisa tahu persis berapa korban yang sudah terjangkit virus HIV AIDS ini. Ke depannya bisa dilakukan terapi pengobatan yang intensif. Dan bagi yang tidak tertular, bisa menghindari virus tersebut dengan pola hidup sehat dan tidak melakukan hubungan seksual kepada banyak orang,” tukasnya.
Pemerintah juga harus memberikan edukasi kepada masyarakat luas, baik di tingkat RT maupun ke sekolah, kampus, dinas terkait, betapa berbahayanya virus HIV AIDS ini.
"Sampai sekarang, di Indonesia belum menemukan obat yang bisa membunuh virus HIV AIDS. Obat tersebut hanya melunakkan perkembangan virusnya, menidurkan virusnya. Dan para penderita HIV AIDS harus mengkonsumsi obat tersebut seumur hidupnya. Seperti halnya penyakit Diabetes Melitus,” tegasnya.
Ning Lia menambahkan, disamping itu, tindakan preventif juga harus dilakukan dari komunitas terkecil, yaitu keluarga.
“Saya yakin, In Syaa Allah kalau keluarga kita harmonis, saling menyayangi, saling menghargai, komunikatif antara orang tua dan anak-anak, maka anak-anak juga bisa menjaga dirinya. Penting sekali adanya keterbukaan antara orang tua dan anak, suami istri, semua anggota keluarga, agar kita bisa memiliki ikatan batin. Kalau mau apa-apa mereka akan mikir dua kali, mereka pasti akan takut menyakiti hati kita,” pungkasnya. *** @nurfadilah



.jpg)
