Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dari ToT ke KIE Mandiri, Sembilan Sekolah di Surabaya Jadi Penggerak Keamanan Pangan Dukung MBG

Editor : Andi Makasar | 19.15 wib
Dok. NP / Istimewa.

SURABAYA, NewsPantau.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup hanya berbicara mengenai terpenuhinya kebutuhan gizi peserta didik. Di balik makanan yang sampai ke meja siswa, ada persoalan lain yang ikut menentukan keberhasilan program, yakni keamanan pangan.

Pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini mendorong sekolah tidak hanya menjadi penerima manfaat MBG, tetapi juga ikut membangun budaya keamanan pangan secara mandiri.

Langkah itu dilakukan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mandiri yang melibatkan Kader Keamanan Pangan Sekolah.
SMAN 18 Surabaya menjadi salah satu sekolah yang melaksanakan edukasi tersebut pada 27 Agustus 2026. Materi yang diberikan mencakup cara memilih, menangani hingga mengonsumsi pangan secara aman.

Program tersebut merupakan tindak lanjut dari Training of Trainers (ToT) yang telah dilaksanakan pada Juli 2026. Dari pelatihan tersebut, kader sekolah diharapkan mampu meneruskan pengetahuan keamanan pangan kepada siswa dan lingkungan sekolah.
Kepala Badan POM, Taruna Ikrar, menegaskan bahwa aspek keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG.

“Keamanan pangan menjadi salah satu kunci keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis,” ujar Taruna Ikrar.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya dapat diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan atau terpenuhinya kebutuhan gizi. Kualitas dan keamanan pangan menjadi mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari program tersebut.

DARI PROGRAM PEMERINTAH MENJADI GERAKAN SEKOLAH

Model KIE mandiri membawa pendekatan berbeda.
Sekolah tidak hanya menunggu edukasi dari pemerintah, tetapi didorong memiliki kader yang mampu menjadi penggerak di lingkungan masing-masing.
SMAN 18 Surabaya menjadi salah satu sekolah yang menjalankan pola tersebut. Selain sekolah tersebut, KIE mandiri juga dilaksanakan di SDN Tembok Dukuh I, SDN Tembok Dukuh III, SDN Pakal I, SDN Bubutan V, MI Imam Syafi’i, MTs Imam Syafi’i, SMPN 50 Surabaya, dan SMAN 19 Surabaya.

Dengan demikian, terdapat sembilan sekolah yang menjadi bagian dari penguatan edukasi keamanan pangan tersebut.
Perwakilan SMAN 18 Surabaya berharap pengetahuan yang diberikan tidak berhenti di lingkungan sekolah.

“Melalui KIE ini, kami berharap siswa semakin memahami bahwa makanan yang bergizi juga harus aman. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan di sekolah dan dibawa ke lingkungan keluarga,” ujarnya.

MBG BUKAN HANYA SOAL MAKANAN GRATIS

Dari sudut pandang kebijakan publik, MBG merupakan program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Karena itu, pembahasan mengenai program tersebut tidak berhenti pada persoalan distribusi makanan kepada siswa.
Ada rantai yang panjang: bahan pangan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, hingga makanan dikonsumsi.
Satu mata rantai yang bermasalah dapat memengaruhi keseluruhan proses.

Di sinilah edukasi keamanan pangan menjadi penting.
Siswa tidak hanya diposisikan sebagai penerima makanan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem keamanan pangan.
Mereka diajarkan mengenali pangan yang aman, memahami cara penanganan makanan dan membangun kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

INVESTASI PENGETAHUAN

Pendekatan KIE mandiri juga memiliki nilai strategis.
Ketika seorang kader mendapatkan pengetahuan, kemudian meneruskannya kepada siswa, keluarga dan masyarakat, edukasi tersebut dapat berkembang melampaui ruang kelas.

Dengan kata lain, investasi pemerintah bukan hanya pada kegiatan sosialisasi, tetapi pada terbentuknya kapasitas masyarakat untuk menjaga keamanan pangan secara mandiri.

Sekolah kemudian menjadi simpul.
Guru menjadi penggerak.
Siswa menjadi penerus pengetahuan.

Dan keluarga menjadi lingkungan berikutnya tempat kebiasaan tersebut diterapkan.
Pada titik itu, keamanan pangan tidak lagi hanya menjadi urusan lembaga pengawas.
Ia menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

MENJAGA MBG DARI HULU HINGGA HILIR

Program sebesar MBG membutuhkan pengawasan yang berjalan dari hulu hingga hilir.
Makanan bergizi yang tidak aman tetap dapat menimbulkan persoalan.
Sebaliknya, pangan yang aman tetapi tidak memenuhi kebutuhan gizi juga belum menjawab tujuan program.

Karena itu, gizi dan keamanan pangan seharusnya berjalan beriringan.
Penguatan kader di sekolah menjadi salah satu upaya membangun kesadaran tersebut dari tingkat paling dekat dengan penerima manfaat.
Melalui ToT, pengetahuan diberikan kepada kader.

Melalui KIE mandiri, pengetahuan tersebut diteruskan.
Dan melalui siswa, pesan keamanan pangan diharapkan ikut bergerak menuju keluarga dan masyarakat.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan semata-mata tentang berapa banyak porsi makanan yang dibagikan, tetapi juga tentang seberapa baik makanan tersebut memenuhi unsur gizi, keamanan dan kualitas bagi penerimanya.
Sembilan sekolah di Surabaya kini menjadi bagian dari upaya tersebut.

Dari Training of Trainers menuju edukasi mandiri, pesan yang dibangun cukup sederhana:
Makanan bergizi harus aman, dan keamanan pangan membutuhkan kesadaran bersama.  *** @andi