Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemenkes RI: 6 Provinsi Diwanti-wanti Lebih Waspada Varian Delta

Editor : Handoko | 20:00 WIB

Dok.newspantau/istimewa.
Kemenkes Siti Nadia Tarmizi Juru bicara vaksinasi covid-19.
-----------------------------------------------------------------------------

News-Pantau.Com, JAKARTA - Juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mewanti-wanti enam provinsi di Indonesia lebih waspada terhadap varian Delta. Pemerintah daerah diminta meningkatkan testing serta tracing.

“Saat ini varian Delta adalah varian yang memiliki tingkat transmisi tinggi, serta berpotensi menyebabkan keparahan adalah merupakan varian yang mendominasi di Indonesia,” kata Nadia dilangsir News-Pantau.Com, Kamis, 26 Agustus 2021.

Keenam provinsi yang terdeteksi memiliki kasus varian Delta tertinggi ialah Aceh, Sumatra Utara, Lampung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tengah. Sementara itu, tiga provinsi belum melaporkan varian Delta, yakni Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara.

“Bukan berarti tidak ada varian (Delta) di daerah tersebut. Ingat, pandemi tidak mengenal batas wilayah sehingga kewaspadaan yang sama, tingginya harus tetap kita lakukan,” kata Nadia.

Nadia menyebut pihaknya melakukan sejumlah upaya pencegahan efektif untuk mengatasi peningkatan kasus aktif di seluruh daerah. Seperti testing, pelacakan kontak erat, isolasi, penguatan protokol kesehatan, serta vaksinasi.

“Kita berupaya untuk mengenal musuh kita dalam pengendalian yang lebih baik dan lebih tepat lagi. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, pandemi dan virus covid-19 tidak mengenal batas administrasi,” kata Nadia.

Dia mengimbau masyarakat yang merasakan sakit seperti sesak napas segera melapor ke puskesmas setempat. Masyarakat juga bisa menggunakan fasilitas telemedicine untuk mendapatkan saran ataupun obat-obatan yang diperlukan.

"Ingat jangan memutuskan melakukan isolasi mandiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Kita tahu varian Delta adalah varian yang mempercepat keparahan gejala. Sehingga pastikan jangan menunda ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan bila gejala menjadi berat atau bertambah sesak," kata dia.

Sementara itu, juru bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro mengatakan masyarakat perlu menghindari kerumunan agar varian Delta tidak lebih cepat menular. Kerumunan hanya akan mempercepat varian delta yang sendirinya telah cepat menular.

“Bukan berarti tidak ada varian (Delta) di daerah tersebut. Ingat, pandemi tidak mengenal batas wilayah sehingga kewaspadaan yang sama, tingginya harus tetap kita lakukan,” kata Nadia.

Nadia menyebut pihaknya melakukan sejumlah upaya pencegahan efektif untuk mengatasi peningkatan kasus aktif di seluruh daerah. Seperti testing, pelacakan kontak erat, isolasi, penguatan protokol kesehatan, serta vaksinasi.

“Kita berupaya untuk mengenal musuh kita dalam pengendalian yang lebih baik dan lebih tepat lagi. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, pandemi dan virus covid-19 tidak mengenal batas administrasi,” kata Nadia.

Ia mengatakan varian Delta mempunyai daya tular tinggi. Varian asal India itu diperkirakan memiliki reproductive number Delta varian 6 sampai 8 dari 10 orang yang tertular. Lalu, akan menularkan kepada 60 sampai 80 orang lainnya.

“Itulah mengapa kita mencatat angka konfirmasi harian di atas 50.000 kasus per harinya,” kata Reisa.

"Dia mendorong seluruh pihak terus menjaga protokol kesehatan. Hal ini agar tidak mengulang kesalahan yang sama saat terjadi peningkatan kasus yang sangat tinggi pada awal Juli 2021.

“Di Juli 2021, dengan berat hati kenaikan kasus yang tak terkendali akan membuat sistem kesehatan kewalahan. Tenaga kesehatan dan rumah sakit kelebihan beban dan pasien tidak terselamatkan,” kata Reisa.

Reisa juga menyarankan masyarakat sebisa mungkin terus di rumah apabila tidak ada kegiatan penting. Supaya terhindar dari varian Delta yang cepat menular.

(And/Gus).