Hari Kopnas ke-78 Tahun, Anggota DPD RI Lia Istifhama Ajak semua Pihak Hidupkan Semangat Koperasi Merah Putih dengan Etika Ekonomi Islam
Jawa Timur, newspantau.com -- Memperingati Hari Koperasi Nasional ke-78 tahun, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak semua pihak untuk merenungkan kembali makna sejati koperasi. Menurutnya, sudah saatnya bangsa ini menghidupkan kembali semangat Koperasi Merah Putih yang berpijak pada nilai kebangsaan, keberanian melawan eksploitasi ekonomi, dan berlandaskan etika ekonomi Islam.
“Koperasi itu bukan hanya badan usaha atau produk lokal. Lebih penting lagi, ia adalah simbol kedaulatan rakyat atas alat produksi dan distribusi. Kita ingin menghidupkan semangat Koperasi Merah Putih yang memerdekakan, bukan menindas,” kata Ning Lia sapan akrab Lia Istifhama.
Ning Lia menekankan, banyak koperasi hari ini justru menjauh dari cita-cita para pendirinya seperti Bung Hatta. Ia menilai koperasi di berbagai desa kerap hanya menjadi papan nama, tempat rente lokal, atau bahkan ladang korupsi terselubung.
“Kita melihat banyak koperasi hanya sibuk memburu proyek, padahal seharusnya menjadi benteng ekonomi rakyat. Bung Hatta sudah mengingatkan, kegagalan BUUD tempo dulu membuat nama koperasi jadi rusak. Kini kita tidak boleh ulangi kesalahan yang sama,” tegasnya.
Menurut Ning Lia, Koperasi Merah Putih harus lahir dari semangat keberpihakan pada petani, nelayan, buruh, dan pelaku UMKM. Semangat merah putih, katanya, bukan hanya soal warna bendera, melainkan keberanian melawan sistem ekonomi predator yang menindas rakyat kecil.
“Merah melambangkan keberanian melawan arus eksploitasi. Putih itu kesucian niat melayani rakyat, bukan melayani pasar semata. Itu semangat yang perlu kita rawat,” ujarnya.
Ning Lia melakukan refleksi relevansi ajaran Bung Hatta yang menyebut koperasi sebagai gerakan demokrasi dan sukarela. Bagi Ning Lia, prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai ekonomi Islam yang menolak praktik zalim, riba, gharar, dan monopoli.
“Ekonomi Islam menawarkan etika yang memperkuat koperasi. Ada prinsip ukhuwah, keadilan, ta’awun. Dalam fiqh muamalah, koperasi bisa jadi syirkah atau mudharabah yakni modal dikumpulkan bersama, pengelola amanah, hasil dibagi adil, rugi ditanggung bersama. Semuanya harus transparan dan musyawarah,” jelas perempuan yang akrab disapa senator Cantik itu.
Lebih jauh, Ning Lia menegaskan perlunya membangun koperasi syariah yang profesional dan amanah sebagai solusi krisis moral dan ekonomi yang menimpa banyak koperasi konvensional.
“Bebas bunga itu penting, tapi lebih penting lagi adalah orientasi maslahat, distribusi nilai yang adil, dan mencegah akumulasi yang eksploitatif. Itu tawaran koperasi berbasis ekonomi Islam,” imbuhnya.
Ia mengingatkan, pembangunan koperasi tidak bisa hanya bersifat administratif atau teknokratis. Perlu ada pendekatan kultural, spiritual, dan intelektual yang menumbuhkan solidaritas sosial, mendidik kader koperasi dengan literasi keuangan dan etika bisnis, serta menegakkan akuntabilitas.
“Tanpa jiwa itu, koperasi hanya papan nama. Tapi dengan jiwa dan nilai, koperasi bisa menjadi alat perjuangan ekonomi rakyat. Itulah impian Bung Hatta, itulah spirit ekonomi Islam mewujudkan kemakmuran yang adil, merata, dan bermartabat,” tegas Ning Lia.
Ning Lia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan momentum Hari Koperasi sebagai langkah konkret membangkitkan kembali koperasi rakyat.





.jpg)