Senator Lia Istifhama Apresiasi Gercep Polda Jatim Tangkap Samuel: Kasus Nenek Elina Jadi Momentum Titik Terang Terkuaknya Mafia Tanah
Editor : Andi Makasar | 21.00 wib
Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur. (Foto Istimewa).
SURABAYA, NewsPantau.com — Langkah cepat (gercep) aparat kepolisian kembali menuai sorotan publik. Kali ini, Polda dinilai menunjukkan keseriusan dengan memeriksa Samuel, sosok yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dalam pusaran kasus yang menimpa Nenek Elina. Pemeriksaan tersebut diapresiasi sebagai sinyal kuat bahwa praktik mafia tanah tak lagi kebal hukum.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Senator Lia Istifhama, menyampaikan apresiasi terbuka atas respons cepat Polda Jatim. Menurutnya, kasus Nenek Elina bukan sekadar perkara individu, melainkan potret luka lama yang dialami banyak warga kecil akibat praktik perampasan hak atas tanah yang sistematis dan terstruktur.
“Langkah cepat Polda ini patut diapresiasi. Kasus Nenek Elina harus menjadi momentum titik terang untuk membongkar mafia tanah yang selama ini bekerja di ruang gelap, menyasar rakyat kecil yang lemah secara hukum,” tegas ning Lia, Senin (29/12).
Senator Ning Lia menilai, keberanian aparat memeriksa pihak-pihak yang diduga terlibat merupakan pesan penting bahwa hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan, modal, maupun relasi. Ia menegaskan, selama ini banyak korban mafia tanah yang terpaksa bungkam karena tekanan, ketakutan, dan ketimpangan akses keadilan.
Kasus Nenek Elina, lanjut Ning Lia, menggugah nurani publik. Seorang warga lanjut usia yang seharusnya menikmati masa tua dengan tenang justru harus berhadapan dengan konflik hukum terkait tanah yang diduga melibatkan praktik manipulatif dan permainan dokumen.
“Jika negara abai, maka keadilan hanya menjadi jargon. Tapi ketika aparat bergerak cepat dan transparan, harapan itu kembali hidup. Ini bukan hanya tentang Nenek Elisa, ini tentang ribuan korban lain yang menunggu keadilan,” ujarnya.
Ning Lia juga mendorong agar proses hukum tidak berhenti pada pemeriksaan awal semata. Ia meminta Polda mengusut tuntas hingga ke akar, termasuk aktor intelektual dan jaringan yang selama ini diduga bermain rapi di balik meja.
“Jangan sampai hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas. Mafia tanah hidup karena ada pembiaran. Jika satu kasus ini dibongkar secara serius, efek dominonya akan besar,” tambahnya.
Publik kini menanti konsistensi aparat penegak hukum. Apakah kasus Nenek Elisa akan menjadi sekadar berita sesaat, atau justru menjadi pintu masuk terbukanya praktik mafia tanah yang selama ini mencederai rasa keadilan masyarakat.
Satu hal yang pasti, sorotan publik telah menyala. Dan bagi mafia tanah, ruang gelap perlahan mulai diterangi. *** @andimakasar/red
