Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Hanya Dikenal dengan Senyum Manis, Senator Lia Istifhama Terkenal Selalu Turun ke Bawah

Editor : Nur Fadilah | 00.01 wib
Kanan kedua: Dr Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur. (Foto Istimewa).

JAWA TIMUR, NewsPantau.com -- Nama Lia Istifhama kian mencuri perhatian dalam peta politik nasional. Terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, senator yang akrab disapa Ning Lia ini mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih 2.739.123 suara. Raihan tersebut menjadikannya senator perempuan non-petahana dengan perolehan suara tertinggi di Indonesia.

Dengan capaian itu, Ning Lia hanya berada di bawah perolehan fenomenal Komeng dari Jawa Barat dan Gus Yasin dari Jawa Tengah. Namun, sorotan publik tidak hanya tertuju  karena cantik dan manisnya, melainkan pada gaya politiknya yang membumi. Ning Lia dikenal konsisten turun ke bawah (turba) atau dalam istilah Jawa, mudun ngisor, dengan hadir langsung di tengah masyarakat.

Meski berasal dari keluarga terpandang keponakan mantan Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa serta putri bungsu tokoh NU KH Maskur Hasyim, Ning Lia memilih tidak berjarak dengan rakyat. Ia kerap berbaur langsung dengan masyarakat lintas lapisan, dari desa hingga kota, mendengarkan aspirasi tanpa sekat.

Tak hanya dikenal sebagai politisi, Ning Lia juga berkiprah sebagai aktivis sosial, advokat, akademisi, penulis, hingga musisi. Karakternya yang pemaaf, jujur, pekerja keras, serta peduli pada wong cilik memperkuat citranya sebagai senator yang hadir untuk melayani, bukan sekadar mengejar kekuasaan.
Kanan kedua: Dr Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur. (Foto Istimewa).


“Bagi saya, politik itu soal amanah dan ketulusan. Kita tidak boleh jauh dari masyarakat. Jangan hanya di atas podium, tapi juga mendengarkan langsung di bawah,” ujar Ning Lia, yang juga kini menjadi Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai Masyarakat Jatim tersebut.

Konsistensi mudun ngisor menjadi kunci keberhasilannya. Meski telah duduk sebagai Anggota DPD RI, Ning Lia tetap rutin menyambangi warga di berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur.
Gaya politik tersebut dinilai turut memperkuat citra DPD RI di mata publik. Sebelumnya, Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya, Mubarok, menilai pendekatan Lia menghadirkan kesegaran.

“Ning Lia membawa langkah pikir baru yang berorientasi pada konstituen. Ia menghadirkan inovasi dalam menyuarakan aspirasi daerah dan menemui masyarakat tanpa pilih-pilih,” ungkapnya. Menurut Mubarok, pola komunikasi seperti ini penting untuk mendekatkan DPD RI dengan masyarakat yang selama ini kerap dianggap elitis.

Di tengah citra politisi yang sering dinilai dekat dengan rakyat hanya saat kampanye, Ning Lia membuktikan sebaliknya. Istilah mudun ngisor yang melekat padanya bukan sekadar jargon, melainkan komitmen nyata untuk mendengar langsung aspirasi dan keluhan rakyat kecil.

Dengan gaya politik egaliter, pendekatan personal, dan aktivitas sosial yang konsisten, Ning Lia Istifhama tampil sebagai simbol politik yang lebih manusiawi, dekat dan peduli pada wong cilik.

Komitmen turun ke bawah itu kembali ditunjukkan Ning Lia melalui agenda reses dan penyerapan aspirasi di 16 kabupaten/kota di Jawa Timur. Daerah tersebut meliputi Lamongan, Surabaya, Malang (kota dan kabupaten), Nganjuk, Gresik, Pacitan, Lumajang, Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Tuban, Bondowoso, Pamekasan, Blitar, hingga Bojonegoro.

Dalam dialog bersama pemangku kepentingan daerah, tenaga pendidik, hingga pelaku wisata, terungkap empat isu strategis yang dinilai perlu mendapat perhatian serius pemerintah pusat.

Isu pertama berkaitan dengan layanan kesehatan, khususnya penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Menurut Ning Lia, banyak rumah sakit daerah masih menunggu pedoman teknis agar tetap berdaya, produktif, dan mampu menyesuaikan kapasitas layanan. Ia menegaskan rumah sakit perlu diperkuat fungsi promotif dan preventif demi perlindungan masyarakat sejak dini.

Isu kedua menyentuh sektor pendidikan, terutama akses PPPK bagi guru Raudlatul Athfal (RA) di bawah naungan Kementerian Agama RI. Ning Lia menilai para pendidik PAUD berbasis keagamaan ini berperan penting, namun belum memperoleh kesempatan seleksi yang setara.

Isu ketiga berkaitan dengan sektor pariwisata. Banyak pelaku usaha wisata belum terlindungi jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, padahal sektor ini menjadi penopang ekonomi daerah. Lia juga mendorong integrasi fasilitas kesehatan di kawasan wisata sebagai bagian dari pengembangan medical tourism.

Isu keempat menyentuh pelestarian budaya dan bahasa daerah. Ning Lia menyoroti pentingnya penyusunan kamus bagi sekitar 718 bahasa daerah sebagai bentuk perlindungan budaya nasional. Menurutnya, program ini perlu masuk prioritas anggaran pemerintah, termasuk dalam perencanaan 2027. 

“Beliau sangat humble, selalu menghibur, dan tidak mau mengecewakan masyarakat. Tidak lelah mudun ngisor,” ujar Sriyatun, Fans Ning Lia asal Gresik.   *** @nurf/red