Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

DPD RI Lia Istifhama Kunjungi RSUD Husada Prima Surabaya, Atensi Penanganan TBC dan Melawan Penyakit Menular Nasional

Editor : Syamsul Anam | 13.00 wib
Dr. Lia Istifhama Anggota komite III DPD RI/ MPR asal Jawa Timur dan dr. Eka Basuki Rachmad. (Foto: newspantau.com).

SURABAYA, NewsPantau.com -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, menunjukkan perhatian serius terhadap penguatan sistem kesehatan nasional saat melakukan kunjungan kerja ke Rumah Sakit Husada Prima Surabaya. Kehadiran senator asli Jatim itu disambut langsung Direktur RSUD Husada Prima saat ini adalah dr. Eka Basuki Rachmad. 

Kunjungan kerja ini menjadi simbol komitmen DPD RI untuk terus hadir di tengah masyarakat, memastikan bahwa kebijakan kesehatan tidak hanya berhenti pada regulasi, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat, terutama dalam melindungi generasi bangsa dari ancaman penyakit berbahaya seperti TBC.

Ning Lia yang juga Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai Masyarakat Jatim itu memberikan apresiasi atas peran strategis rumah sakit paru sebagai garda terdepan dalam menghadapi penyakit menular, khususnya tuberkulosis atau TBC yang hingga kini masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Ning Lia juga menilai bahwa komitmen layanan kesehatan tidak hanya tercermin dari fasilitas dan tenaga medis, tetapi juga dari kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam melindungi masyarakat dari penyakit menular yang berbahaya dan berpotensi memicu dampak sosial serta ekonomi yang luas.
Dr. Lia Istifhama Anggota komite III DPD RI/ MPR asal Jawa Timur dan dr. Eka Basuki Rachmad. (Foto: newspantau.com).

Dalam dialog bersama manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan, Ning Lia mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka kasus TBC di Indonesia. Ia menegaskan bahwa TBC bukan sekadar penyakit medis, melainkan ancaman serius yang dapat melemahkan kualitas hidup masyarakat apabila tidak ditangani secara konsisten dan berkelanjutan.

“Tuberkulosis adalah penyakit berbahaya yang penularannya sering kali tidak disadari. Jika tidak terdeteksi sejak dini dan diobati hingga tuntas, dampaknya bisa sangat luas, bukan hanya bagi pasien, tetapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujar Ning Lia, yang juga keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu dengan nada empatik, Jumat (23/01).

Berdasarkan data nasional, Indonesia masih menghadapi beban TBC yang tinggi, dengan perkiraan lebih dari satu juta kasus baru pada tahun 2023. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, sekaligus menjadi pengingat bahwa pengendalian penyakit menular masih membutuhkan perhatian ekstra.

Menurut Ning Lia, rumah sakit paru memiliki peran vital tidak hanya sebagai pusat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat edukasi masyarakat. Upaya deteksi dini, kepatuhan pengobatan, serta pencegahan penularan harus terus diperkuat melalui pendekatan yang humanis dan berbasis komunitas.

Ning menilai bahwa kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC perlu dibangun secara berkelanjutan, agar stigma dapat dikurangi dan pasien berani menjalani pengobatan hingga sembuh. Dengan demikian, rantai penularan dapat diputus secara lebih efektif.
Dr. Lia Istifhama saat kunjungan kerja di RSUD Husada Prima Surabaya disambut dengan baik oleh Direktur dr. Eka Basuki Rachmad dan jajaran dokter, Jumat (23/1). (Foto: newspantau.com).

Kunjungan ke RSUD Husada Prima Surabaya ini merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan Komite III DPD RI terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Melalui pengawasan langsung ke daerah, Komite III berupaya memperoleh gambaran faktual mengenai kesiapan layanan kesehatan serta efektivitas program penanggulangan penyakit menular.
Ning Lia menegaskan bahwa kebijakan kesehatan yang kuat harus berangkat dari realitas lapangan. Masukan dari tenaga kesehatan dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pengendalian TBC dan penyakit menular lainnya membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Semua pihak harus bergerak bersama, karena penyakit ini terlalu berbahaya jika dihadapi secara terpisah,” ungkapnya.
Dr. Lia Istifhama saat kunjungan kerja di RSUD Husada Prima Surabaya disambut dengan baik oleh Direktur dr. Eka Basuki Rachmad dan jajaran dokter, Jumat (23/1). (Foto: newspantau.com).

Sebagai amanat konstitusional Pasal 22D Undang-Undang Dasar 1945, kegiatan reses Komite III DPD RI menjadi sarana untuk memastikan Undang-Undang Kesehatan dapat diterapkan secara menyeluruh dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Selain isu TBC dan penyakit menular, pengawasan juga mencakup pengendalian konsumsi Minuman Berpemanis Dalam Kemasan serta transformasi pendidikan kesehatan. Ketiga isu tersebut dinilai saling berkaitan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.  *** @syamsulA/red