Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kunker di RSUD Husada Prima Surabaya, Senator Lia Istifhama Soroti Pengendalian TBC dan Penyakit Menular

Editor : Syamsul Anam | 12.30 wib
Dr. Lia Istifhama Anggota Komite III DPD RI/ MPR asal Jawa Timur. (Foto: newspantau.com).

SURABAYA, NewsPantau.com – Komitmen penguatan sistem kesehatan nasional kembali ditegaskan Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, saat melakukan kunjungan kerja ke RSUD Husada Prima Surabaya. Kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk menyoroti peran strategis rumah sakit paru sebagai benteng utama dalam pengendalian penyakit menular, khususnya tuberkulosis atau TBC yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di Indonesia.

Kehadiran senator muda yang akrab disapa Ning Lia itu disambut langsung oleh Direktur RSUD Husada Prima Surabaya, dr. Eka Basuki Rachmad. Dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka, keduanya membahas berbagai upaya penguatan layanan kesehatan paru, mulai dari deteksi dini hingga keberlanjutan pengobatan pasien TBC.

Direktur RSUD Husada Prima Surabaya, dr. Eka Basuki Rachmad, menegaskan bahwa rumah sakit paru memiliki tanggung jawab besar tidak hanya dalam aspek pelayanan medis, tetapi juga edukasi dan pendampingan pasien. Menurutnya, keberhasilan penanggulangan TBC sangat ditentukan oleh kedisiplinan pengobatan serta pemahaman masyarakat terhadap bahaya penularan penyakit tersebut.

Ia menyampaikan bahwa RSUD Husada Prima terus berupaya memperkuat layanan berbasis empati dengan memastikan pasien merasa aman, diterima, dan tidak distigmatisasi. Pendekatan humanis dinilai penting agar pasien TBC berani memeriksakan diri sejak dini dan menjalani pengobatan hingga tuntas, sehingga rantai penularan dapat diputus secara efektif.

“Kami tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga membangun kepercayaan pasien dan keluarganya. TBC bisa disembuhkan asalkan terdeteksi lebih awal dan pengobatan dijalani secara konsisten,” tutur dr. Eka Basuki Rachmad.
Kiri: Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI asal Jawa Timur dan dr. Eka Basuki Rachmad (foto: newspantau.com).

Dalam kunjungannya, Ning Lia Istifhama menyampaikan apresiasi atas dedikasi RSUD Husada Prima Surabaya dalam menangani penyakit paru menular. Ia menilai bahwa komitmen layanan kesehatan tercermin bukan semata dari fasilitas dan tenaga medis, melainkan dari kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyakit yang berdampak luas secara sosial dan ekonomi.

Ning Lia mengungkapkan keprihatinannya terhadap masih tingginya angka kasus TBC di Indonesia. Berdasarkan data nasional, Indonesia masih menghadapi beban TBC yang besar dengan perkiraan lebih dari satu juta kasus baru pada tahun 2023. Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia dan menjadi peringatan bahwa pengendalian penyakit menular harus terus diperkuat.

“Tuberkulosis bukan sekadar persoalan medis. Penularannya sering kali tidak disadari, dan jika tidak ditangani secara serius, dampaknya bisa melemahkan kualitas hidup pasien, keluarga, bahkan lingkungan sekitarnya,” ujar Lia Istifhama dengan nada empatik.

Menurut Ning Lia, rumah sakit paru seperti RSUD Husada Prima memiliki peran vital sebagai pusat edukasi masyarakat. Upaya deteksi dini, kepatuhan minum obat, serta pencegahan penularan harus terus didorong melalui pendekatan berbasis komunitas yang manusiawi dan berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran publik agar stigma terhadap penderita TBC dapat dikikis. Dengan lingkungan yang lebih suportif, pasien diharapkan tidak ragu menjalani proses pengobatan hingga dinyatakan sembuh, sehingga target eliminasi TBC nasional dapat tercapai.

Kunjungan kerja ke RSUD Husada Prima Surabaya ini merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan Komite III DPD RI terhadap implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Melalui peninjauan langsung ke daerah, Komite III berupaya memperoleh gambaran faktual mengenai kesiapan layanan kesehatan dan efektivitas program pengendalian penyakit menular.
Dr. Lia Istifhama DPD RI saat kunjungan kerja di RSUD Husada Prima Surabaya,. (Foto: newspantau.com).

Ning Lia menegaskan bahwa kebijakan kesehatan yang kuat harus lahir dari realitas lapangan. Masukan dari tenaga kesehatan, manajemen rumah sakit, serta pemerintah daerah menjadi fondasi penting dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pengendalian TBC membutuhkan sinergi yang solid antara pemerintah pusat, daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Penyakit ini terlalu berbahaya jika ditangani secara parsial. Semua pihak harus bergerak bersama,” tegasnya.

Sebagai amanat konstitusional Pasal 22D Undang-Undang Dasar 1945, kegiatan reses Komite III DPD RI menjadi sarana strategis untuk memastikan Undang-Undang Kesehatan diterapkan secara menyeluruh dan berdampak nyata bagi masyarakat. Selain isu TBC, pengawasan juga mencakup pengendalian konsumsi Minuman Berpemanis Dalam Kemasan serta transformasi pendidikan kesehatan yang dinilai saling berkaitan dalam meningkatkan derajat kesehatan nasional.

Kunjungan ini menegaskan komitmen DPD RI untuk terus hadir di tengah masyarakat, memastikan kebijakan kesehatan tidak berhenti pada tataran regulasi, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Terutama dalam melindungi generasi bangsa dari ancaman penyakit menular berbahaya seperti tuberkulosis.  *** @syamsulA/red