Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lia Istifhama di LDKM STAI Taruna: Influencer Harus Tenang, Berilmu, dan Paham Teori Komunikasi

Editor : Andi Makasar | 23.00 wib
Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI saat di LDKM STAI Taruna Surabaya. (Foto Istimewa).

SURABAYA, NewsPantau.com — Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menegaskan bahwa menjadi influencer tidak cukup hanya bermodal popularitas. Keteguhan karakter, keluasan ilmu, dan pemahaman teori komunikasi menjadi syarat penting agar pengaruh yang dibangun memberi dampak positif bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Lia saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) STAI Taruna Surabaya, Minggu (11/01/26). Kehadiran senator perempuan yang dikenal dekat dengan dunia pendidikan dan generasi muda itu mendapat sambutan antusias dari para mahasiswa.

Dalam pemaparannya, Lia mengingatkan mahasiswa agar tidak gugup saat berbicara di depan publik. Ia menekankan pentingnya ketenangan batin sebagai fondasi komunikasi yang efektif.

“Jika ingin bicara di depan orang banyak, tenangkan diri. Sebagai muslim, kita diajarkan membaca doa rabbi syrahli shadri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qouli agar pesan yang disampaikan bisa dipahami,” ujar Lia.
Dr. Lia Istifhama anggota DPD RI saat di LDKM STAI Taruna Surabaya. (Foto Istimewa).

Menurut Lia, influencer sejati adalah mereka yang berbicara dari hati. Kejujuran dan ketulusan, kata dia, akan membuat pesan lebih mudah diterima oleh audiens, khususnya generasi muda yang kritis terhadap narasi yang dibangun di media sosial.

Selain pendekatan spiritual dan etis, Lia juga menekankan pentingnya bekal akademik. Ia mengajak mahasiswa memahami teori komunikasi, seperti teori jarum suntik (hypodermic needle theory) dan spiral of silence, agar tidak sembarang dalam memproduksi dan menyebarkan konten.

“Teori komunikasi penting agar kita sadar bahwa pesan bisa mempengaruhi opini publik. Konten yang kita buat bisa membentuk cara berpikir orang lain,” tegasnya.

Lia juga menyoroti kuatnya pengaruh media sosial Indonesia. Menurutnya, arus informasi dari dalam negeri tidak jarang berdampak hingga ke luar negeri. Karena itu, influencer muda dituntut memiliki tanggung jawab moral dalam membangun narasi.

“Media sosial Indonesia itu kuat. Bisa mempengaruhi wacana di luar negeri. Maka mahasiswa harus bijak, jangan ikut-ikutan arus yang tidak mendidik,” katanya.

Melalui LDKM ini, Lia berharap mahasiswa STAI Taruna Surabaya mampu menjadi influencer yang inspiratif, beretika, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Ia menilai kampus memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang cakap berkomunikasi sekaligus berkarakter kuat.  *** @andimakasar/red