Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Senator Jatim Lia Istifhama Beri Pesan Ini pada Mahasiswa dan Pelajar, Hadapi Media Sosial

Editor : Andi Makasar | 00.45 wib
Tengah: Dr. Lia Istifhama Senator Jatim saat hadiri acara Puasa Digital di STIKOM AWS Surabaya.

SURABAYA, NewsPantau.com -- Di tengah derasnya arus informasi dan riuhnya lini masa media sosial, ruang-ruang refleksi digital mulai terasa semakin dibutuhkan. Kampus pun tak lagi sekadar menjadi tempat bertukar gagasan akademik, tetapi juga wadah membangun kesadaran bermedia sosial  yang sehat dan bertanggung jawab.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Forum Komunikasi Terbuka MUNIO melalui Program Puasa Digital yang digelar di STIKOSA AWS Surabaya, Rabu (25/2/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Senator asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama, yang mengajak mahasiswa untuk lebih bijak dan beretika dalam menggunakan media sosial.

Acara ini turut dihadiri Ketua STIKOSA AWS Jokhanan Kristiono, Humas STIKOSA AWS Hari Widodo, serta Dosen Ilmu Komunikasi Suprihatin bersama para mahasiswa, siswa SMK Prapanca 1 dan 2, bapak ibu dosen dan para guru yang antusias mengikuti diskusi.

Dalam forum tersebut, Senator Jatim Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia menekankan pentingnya penguatan pondasi keluarga dan karakter pribadi di tengah derasnya arus digitalisasi. 

Menurutnya, kesibukan pekerjaan dan tekanan ekonomi kerap membuat komunikasi keluarga menjadi kurang maksimal, sehingga berdampak pada cara generasi muda menyikapi media sosial.

“Menjadi pribadi hebat dan diakui bukan soal seberapa aktif di media sosial, tetapi seberapa kuat karakter dan pondasi diri yang dibangun dari keluarga,” ujar Ning Lia yang juga Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut.

Ning Lia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam ilusi dunia maya. Ia mencontohkan fenomena konten viral, isu-isu negatif seperti tambang ilegal, hingga serangan siber (hacker) yang menunjukkan bahwa dunia digital memiliki risiko besar.

“Media sosial itu bukan dunia nyata. Jangan sampai hidup kita seperti di dalam akuarium. Sosmed hanyalah sarana komunikasi, bukan tempat kita menggantungkan identitas diri,” tegas NIng Lia yang juga putri KH Maskur Hasyim itu. 

Ning Lia mengaku pernah mengalami pengalaman kurang menyenangkan di dunia digital, media sosial Ning Lia pernah di hacker. Dari pengalaman itu, Ning Lia  kini lebih selektif dalam membagikan kehidupan pribadi di media sosial.

Menurut ibu dua anak itu, membagikan pengalaman pribadinya dalam menggunakan media sosial. Ia menilai, dunia digital memang membuka ruang kreativitas, namun tetap memiliki risiko yang harus disadari pengguna.
Dr. Lia Istifhama Senator Jatim saat memberikan pesan ke generasi muda soal Media Sosial. (Foto: NP/Istimewa).

“Di media sosial kita memang bisa berkarya. Tapi suatu saat bisa saja kita diserang, bahkan mengalami peretasan. Itu mengingatkan saya bahwa dunia maya bukan dunia nyata. Sejak saat itu saya memilih tidak lagi memposting hal-hal pribadi dan mencoba menerima semuanya sebagai cara Allah mengingatkan kita dalam bermedia sosial,” ujar Ning Lia.

Politisi cantik itu menambahkan, penggunaan media sosial yang berlebihan kerap membuat waktu terbuang tanpa disadari. Karena itu, ia selalu mengingatkan anak-anaknya agar bijak saat menggunakan gawai.

“Saya selalu menyampaikan kepada anak saya, ketika sudah memegang handphone harus tetap bijak. Apa pun yang ada di luar sana bukan sepenuhnya dunia nyata. Yang paling penting tetap keluarga, orang tua, dan teman yang benar-benar kita kenal di kehidupan nyata,” jelasnya.
Dr. Lia Istifhama Senator Jatim saat memberikan pesan ke generasi muda soal Media Sosial. (Foto: NP/Istimewa).

Menurutnya, media sosial seharusnya hanya menjadi sarana komunikasi dan memperluas jaringan pertemanan, bukan menggantikan hubungan sosial secara langsung.

“Sosial media itu alat komunikasi, bukan pengganti hubungan nyata. Teman yang sesungguhnya adalah mereka yang kita kenal dan hadir di kehidupan nyata,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Stikosa AWS Jonathan Kristiono mengatakan melalui Program Puasa Digital mengajak generasi muda untuk mengatur waktu penggunaan gawai agar tidak menguras produktivitas.

“Sosial media bukan pondasi hidup kita. Pondasi hidup adalah keluarga, empati, dan relasi nyata,” katanya.   *** @andiM/red