Senator Ning Lia: Fatayat NU Memiliki Suara Kultur untuk Masa Depan Bangsa
Editor : Nur Fadilah | 18.30 wib
SURABAYA, NewsPantau.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum penting untuk menentukan arah perjalanan organisasi lima tahun ke depan. Di tengah munculnya sejumlah nama dalam bursa Ketua Umum PBNU, Wakil Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Lia Istifhama menegaskan posisi badan otonom (Banom) seperti Fatayat sebagai peninjau dalam forum Muktamar.
Ning Lia mengatakan hak suara dalam Muktamar NU berada di tangan muktamirin dari struktur NU yang telah memenuhi ketentuan dan terverifikasi sebagai peserta.
“Kalau bicara Banom NU seperti Fatayat, positioning-nya adalah sebagai peninjau atau observer, bukan peserta tetap yang memiliki hak suara struktural. Jadi konteksnya harus sesuai aturan,” kata Ning Lia, Rabu (26/8/2026).
Meski tidak memiliki hak suara, Ning Lia menilai perempuan NU tetap memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan organisasi. Sebab, keberlangsungan generasi Nahdliyin tidak terlepas dari peran perempuan, terutama dalam lingkungan keluarga.
“Keberlangsungan generasi Nahdliyin salah satunya terletak pada pola didikan kaum perempuan NU. Kultur Nahdliyin yang sarat religi, Aswaja dan kearifan lokal sebagai identitas Islam Nusantara harus terus dibumikan, dilestarikan dan dijaga,” ujarnya.
Karena itu, Ning Lia mendorong Muslimat NU, Fatayat NU hingga IPPNU untuk terus menghadirkan gagasan sekaligus memperkuat kader perempuan di ruang-ruang strategis publik.
“Ayo kita berperan, jangan sampai baperan,” tegasnya.
Ning Lia juga menyoroti gagasan “Jalan Pulang NU ke Jamaah”. Menurutnya, gagasan tersebut harus diterjemahkan dalam kerja nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Ia menilai kekuatan NU tidak hanya berada pada dinamika elite organisasi, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan solusi bagi jamaah di tingkat akar rumput.
Di Jawa Timur, kata Ning Lia, Fatayat NU telah menjalankan sejumlah program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, di antaranya forum daiyah dan Desa Sahabat.
Sementara itu, jejaring pemberdayaan perempuan NU juga memiliki sejumlah program, seperti Mustika Darling untuk meningkatkan kesadaran lingkungan, Mustika Mesem untuk pengentasan kemiskinan ekstrem, hingga Baznas Microfinance Majelis Taklim (BMMT) untuk memperkuat akses pembiayaan mikro bagi perempuan.
“Ini bentuk nyata implementasi jalan pulang NU ke jamaah. Secara kontekstual, NU harus hadir dalam daily life masyarakat sebagai benevolent society, masyarakat kebajikan,” jelasnya.
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi tantangan baru bagi keluarga Nahdliyin. Ning Lia menilai perempuan, khususnya ibu, memiliki posisi penting dalam mendampingi anak menghadapi perkembangan teknologi.
“Anak-anak harus tumbuh melek digital, alias tidak terpental, tetapi juga tidak terjebak menjadi objek yang dimanfaatkan oleh produk-produk digital,” katanya.
Menurutnya, pendidikan digital anak tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Orang tua, khususnya ibu, perlu hadir sebagai pengawas sekaligus sahabat bagi anak.
Pendampingan tersebut dinilai penting untuk mencegah anak terjerat berbagai dampak negatif digitalisasi, termasuk judi online.
“Peran orang tua itu terus melekat dalam kehidupan anak. Tantangannya adalah bagaimana keluarga tetap menjaga rel kehidupan anak-anaknya di tengah perkembangan digital yang sangat revolusioner,” ujarnya.
Di sektor ekonomi, Ning Lia menilai penguatan kapasitas perempuan harus menjadi bagian dari strategi pemberdayaan jamaah.
Salah satu program yang dinilainya potensial adalah BMMT. Program tersebut memberikan pembiayaan modal usaha tanpa bunga melalui skema qardhul hasan, dengan nominal hingga Rp3 juta bagi setiap penerima.
Program itu menyasar pelaku usaha mikro, terutama ibu-ibu dan jamaah perempuan yang aktif di lingkungan majelis taklim.
Menurut Ning Lia, pemberdayaan berbasis komunitas memiliki keunggulan karena tidak sekadar memberikan akses permodalan, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi perempuan.
Ia berharap sinergi antara Banom NU, pemerintah, Baznas dan berbagai pihak terus diperkuat sehingga program pemberdayaan perempuan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Jangan sampai program pemberdayaan perempuan berjalan sendiri-sendiri atau terjebak ego sektoral antar-Banom. Yang harus diperkuat adalah kolaborasi dan sinergi,” katanya.
Terkait sejumlah nama yang muncul dalam bursa Ketua Umum PBNU, Ning Lia memilih tidak masuk dalam pusaran dukung-mendukung kandidat.
Ia menilai seluruh figur yang muncul memiliki kapasitas dan merupakan tokoh penting bangsa.
“Semua figur Caketum PBNU sangat kuat. Mereka semua tokoh bangsa, tokoh penting Indonesia. Kita harus memiliki satu keyakinan yang sama, bahwa siapapun Ketum PBNU ke depan, beliau adalah sosok yang tepat untuk menakhodai ormas terbesar Indonesia,” pungkasnya.
Bagi Ning Lia, siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu menjaga marwah NU sekaligus memastikan organisasi tetap dekat dengan jamaah.
Sebab, di tengah dinamika elite organisasi, kekuatan terbesar NU tetap berada di akar rumput, mulai dari keluarga, pesantren, majelis taklim, kader perempuan hingga jutaan jamaah yang menjadi denyut kehidupan Nahdlatul Ulama. *** @nurfadilah





