Berat Badan Turun 10 Persen Bisa Bantu Redakan Nyeri OA Lutut, Pakar Dorong Penanganan Komprehensif
Editor : Andi Makasar | 23.00 wib
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, Dr. dr. Ihsan Oesman, Sp.OT, Subsp.KP. dan dr. Andhika Raspati, Sp.KO. dan Dokter Riyanny M. Tarliman, Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia.
JAKARTA, NewsPantau.com – Penurunan berat badan sekitar 10 persen dapat membantu memperbaiki gejala osteoartritis (OA) lutut pada sebagian orang dengan obesitas. Pengelolaan berat badan dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga fungsi gerak dan kualitas hidup penderita OA lutut.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi media bertajuk “Hidup Lebih Ringan, Bergerak Lebih Bebas: Memahami Hubungan Obesitas, Osteoartritis Lutut, dan Kualitas Hidup” yang digelar Novo Nordisk Indonesia bersama sejumlah pakar kesehatan, 28 Agustus 2026.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, Dr. dr. Ihsan Oesman, Sp.OT, Subsp.KP, menjelaskan bahwa OA lutut merupakan kondisi kronis yang dapat berkembang secara bertahap dan memengaruhi mobilitas sehari-hari.
Pada individu dengan obesitas, risiko dan perkembangan OA lutut dapat dipengaruhi kombinasi beban mekanis yang lebih besar pada sendi serta faktor biologis yang berkaitan dengan jaringan lemak.
“Pengelolaan berat badan yang tepat dan komprehensif merupakan bagian penting dalam membantu mengurangi beban pada sendi lutut. Perubahan pola makan, latihan fisik yang sesuai, dan dukungan perubahan perilaku merupakan fondasi penting dalam manajemen berat badan,” jelas dr. Ihsan.
Dokter spesialis bedah ortopedi dan traumatologi, Dr. dr. Ihsan Oesman, Sp.OT, Subsp.KP.
Menurutnya, penanganan obesitas tidak selalu mudah. Nyeri lutut dan keterbatasan gerak dapat membuat seseorang kesulitan mempertahankan aktivitas fisik. Di sisi lain, rasa lapar atau dorongan makan yang berulang juga dapat menjadi tantangan dalam mengubah pola makan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan sekitar 10 persen dapat memberikan perbaikan gejala yang bermakna pada orang dengan obesitas dan OA lutut.
Salah satu studi selama 16 minggu terhadap 175 perempuan lanjut usia dengan obesitas dan OA lutut menunjukkan mayoritas peserta mengalami penurunan berat badan lebih dari 10 persen. Sebanyak 64 persen peserta dilaporkan mengalami perbaikan gejala, termasuk nyeri dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Bukti klinis lain melalui studi STEP 9 yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine juga menunjukkan bahwa terapi berbasis GLP-1 pada peserta dengan obesitas dan OA lutut menghasilkan penurunan skor nyeri lutut serta perbaikan fungsi fisik dibandingkan plasebo.
Meski demikian, pengelolaan obesitas tidak hanya berfokus pada angka di timbangan. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, Sp.KO, mengatakan penurunan berat badan idealnya diarahkan untuk mengurangi massa lemak sekaligus mempertahankan massa otot.
“Penurunan berat badan yang sehat bukan sekadar mengurangi asupan makanan, melainkan juga menjaga agar massa otot tidak ikut berkurang,” ujarnya.
dr. Andhika Raspati, Sp.KO.
Ia menyarankan kombinasi latihan kardio berdampak rendah, seperti bersepeda, dengan latihan kekuatan yang menyasar kelompok otot besar. Bagi orang dengan obesitas dan OA lutut, aktivitas fisik sebaiknya dimulai dari intensitas ringan dan ditingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan.
“Prinsipnya, mulailah secara bertahap dan pilih aktivitas yang nyaman serta aman bagi sendi lutut,” jelas dr. Andhika.
Sementara itu, Dokter Riyanny M. Tarliman, Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, menekankan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis kompleks dan bukan sekadar persoalan berat badan maupun pilihan pribadi.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk berusia di atas 18 tahun mencapai 23,4 persen atau hampir satu dari empat orang dewasa di Indonesia.
“Obesitas adalah kondisi medis, bukan kegagalan pribadi. Penanganan yang tepat dapat mencakup edukasi, pengaturan pola makan, latihan fisik yang disesuaikan, serta dukungan medis dan pilihan terapi yang dipertimbangkan dokter sesuai kebutuhan individu dengan obesitas,” kata Riyanny.
Dokter Riyanny M. Tarliman, Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia.
Ia menambahkan, pada sebagian individu dengan obesitas, perubahan gaya hidup saja mungkin belum memberikan hasil yang memadai. Dalam kondisi tersebut, dokter dapat mempertimbangkan dukungan medis, termasuk farmakoterapi untuk manajemen berat badan, sesuai indikasi dan kondisi klinis masing-masing pasien.
Sejumlah pedoman klinis internasional menempatkan edukasi, pengelolaan berat badan, dan latihan fisik sebagai bagian penting dalam penanganan OA lutut. Pendekatan tersebut perlu dilakukan secara komprehensif dan disesuaikan dengan kondisi setiap individu.
Novo Nordisk Indonesia menyatakan terus mendukung edukasi dan penanganan penyakit kronis berbasis sains melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Informasi mengenai obesitas dan manajemen berat badan juga tersedia melalui platform edukasi NovoCare.id.






.jpg)